Rabu, 11 Maret 2020

Misteri warna oker pada relief candi Borobudur

Salah satu peninggalan masa lalu yang sangat saya gemari salah satunya ialah candi. Masih sangat banyak candi yang belum saya ketahui dan saya kunjungi. Sabtu minggu yang lalu (tanggal 7 Maret 2020) saya memiliki kesempatan lagi untuk berkunjung ke candi Borobudur bersama murid-murid dan beberapa teman sesama pengajar di SMP Negeri 12 Malang.
Waktu yang terbatas membuat kami harus memanfaatkannya dengan efisien Sebelum memasuki candi Borobudur ada papan petunjuk cara memasuki candi yang jelas dan mudah terbaca oleh pengunjung. Di papan petunjuk itu menjelaskan bahwa setelah memasuki pintu candi kita harus belok kiri dan mengelilingi candi searah jarum jam,  perjalanan mengelilingi candi ini disebut pradakshina. Dalam Bahasa Sansekerta, dhaksina berarti utara. Pradakshina ialah cara mengelilingi candi searah jarum jam (dari timur ke utara). Relief cerita yang dipahatkan pada dinding candi pun dimulai dari sisi timur candi. Namun di Jawa Timur umumnya relief cerita pada dinding candi dimulai dari sebelah kanan, sehingga cara mengelilinginya berlawanan putaran jarum jam. Cara mengelilingi candi dari kanan ke kiri disebut prasawiya, misalnya di candi Jago yang terletak di Tumpang, kabupaten Malang.


Saat mengamati relief-relief di candi Borobudur, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya yaitu warna relief yang sedikit kuning-kecoklatan atau biasa disebut warna oker.

Warna oker merupakan pewarna merah alami yang berasal dari tanah liat berpigmen hematit (Hematit merupakan mineral yang berwarna hitam hingga abu-abu perak atau baja, coklat hingga merah kecoklatan atau merah) atau mineral kemerahan yang mengandung zat besi teroksidasi (berinteraksinya antara molekul oksigen dan semua zat yang berbeda). 
Saat itu saya beranggapan, mungkin ini ialah sisa-sisa warna yang memang digunakan untuk melapisi relief candi agar indah. 



Pada postingan saya yang membahas sedikit tentang Relief (Rabu, 12 Desember 2012) menjelaskan bahwa tahapan akhir pembuatan relief candi ialah diwarna, sehingga asumsi saya sisa-sisa warna itu ialah warna dasar yang memang sengaja dilapiskan pada permukaan relief dengan tujuan memudahkan proses pewarnaan relief atau sebagai warna dasar sehingga intensitas warna-warna yang diinginkan selanjutnya dengan mudah tercapai.



Namun setelah saya baca-baca buku lagi, yaitu 100 tahun pasca pemugaran candi Borobudur disebutkan bahwa sisa warna itu ialah bekas bahan untuk membuat cetakan relief yang ditempelkan oleh peneliti-peneliti dari Belanda dengan harapan memiliki tiruan relief tersebut. Diketahui bahwa pada tahun 1899 Von Saher melakukan pencetakan beberapa panel relief yang kemudian digunakan untuk pameran di Paris pada tahun 1900.
Terlepas dari apakah sisa warna itu ialah warna dasar yang memang sengaja dilapiskan pada permukaan relief candi untuk menghasilkan intensitas warna selanjutnya lebih kuat ataukah sisa-sisa pencetakan relief candi yang dilakukan oleh Von Saher, yang jelas sisa warna itu sampai sekarang masih melekat erat di beberapa panel permukaan relief candi Borobudur. Salah satu misteri besar pada Candi Borobudur yang hingga saat ini masih menjadi pertanyaan adalah lapisan kuning pada permukaan relief. Berbagai pendapat banyak dikemukakan tentang material ini. Misteri tersebut berkaitan dengan alasan pembuatan lapisan kuning ini dan bahan apa yang digunakan. Mengapa relief yang bagus harus dilapisi dengan lapisan kuning dan dengan campuran apa diaplikasikannya. Salah satu pendapat yang saat ini paling populer mengenai alasan aplikasi lapisan kuning tersebut adalah untuk membantu fotografi. Teknologi fotografi yang ada pada saat itu belum bisa menghasilkan gambar sempurna pada objek yang gelap (karena permukaan batu berwarna hitam). Dengan pelapisan warna kuning pada permukaan candi diharapkan kualitas foto akan sempurna. Salah satu pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Meucci (2007), ia berpendapat bahwa lapisan kuning tersebut diterapkan pada permukaan relief Candi Borobudur serupa dengan yang diterapkan pada beberapa monumen di Eropa dengan menggunakan bahan kalsium hidroksida dan larutan silikat untuk meningkatkan kekerasan serta sifat penolak air pada monumen yang mengalami pelapukan. Hasil berbagai analisis tersebut mengarah kepada hipotesis bahwa lapisan kuning pada relief Candi Borobudur, terbuat dari campuran alkaline silicates, pigmen alam dan atau sintetis, dan mungkin kapur.


Waktu berjalan teramat sangat cepat, langkah-langkah kaki sedikit kami percepat karena waktu memang benar-benar terbatas dan akhirnya tidak semua lorong candi kami lalui, saat itu juga saya membayangkan seandainya memang benar dahulu candi Borobudur seluruh permukaan reliefnya penuh warna, pasti terlihat sangat indah. Walaupun keindahan itu pun lambat laun akan musnah oleh kekuatan alam, manusia hanya bisa memperlambat proses tersebut. Perjalanan pun akhirnya tiba di bagian puncak candi yaitu arupadhatu



Berbeda dengan lorong-lorong sebelumnya reliefnya sangat banyak, pada lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Tingkatan ini melambangkan alam atas, yaitu fase atau tingkatan manusia yang sudah bebas dari segala keinginan maupun ikatan bentuk dan rupa (nafsu keduniawian). Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Disini kami bertemu bapak petugas yang sangat ramah dan menjelaskan makna-makna simbolis dari stupa serta nilai-nilai spriritualnya. Beliau menerangkan bahwa bentuk stupa mirip dengan genta dengan satu tiang puncak (yasti) yang memiliki makna bahwa penguasa alam ini hanya satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu semua hal akan kembali kepada sang pencipta. 






























































































Kamis, 05 Maret 2020

Ngungkalati: setajam silet


Suasana malam yang dingin dan berkabut setelah hujan sesiangan sangat kontras dengan keadaan di dalam studio lukis milik mas Gatot Pujiarto yang terletak di kawasan dusun Klandungan desa Landungsari Kabupaten Malang. Di dalam studio tersebut terdengar riuh tawa dan canda beberapa perupa muda serta obrolan ringan seputar proses kreatif mereka.
Selain tuan rumah, di situ ada mas Heri Catur (gombloh), Sawir Wirastho, Ahmad Muhlis Siklum, Yoga, Fathur, Ale Sukarno, Juned, Jambrong, Pak Dhe, Awang, dan tentu saja saya. Selasa malam ini (25 Februari 2020) ialah pertemuan ketiga yang saya ikuti. Di pertemuan-pertemuan sebelumnya kami juga berkumpul serta membawa karya masing-masing untuk didiskusikan bersama-sama dengan harapan ada masukan positif kepada setiap perupa. Karya yang dibawa tidak selalu sudah selesai 100%, dengan demikian peserta diskusi akan mengetahui proses kreatif dan perkembangan karya peserta.
Sekitar pukul 20.00 WIB kabut asap (rokok) di dalam ruangan semakin pekat, sehingga jendela harus dibuka agar ada sirkulasi udara dan keadaan kembali segar. Perbincangan diawali oleh Yoga, yang membawa karya lukisnya. Lukisan dibuat pada kanvas dan masih belum 100%. Yoga memaparkan tema lukisannya yang mengangkat toga atau tanaman obat keluarga yaitu binahong. Binahong merupakan tumbuhan menjalar yang berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah serta mengembalikan daya tahan tubuh. Bentuk daun dan batang tumbuhan atau tanaman tersebut oleh Yoga distilir menjadi suluran-suluran berwarna magenta dan dijadikan sebagai latar belakang gambar. Pada proses kreatifnya, Yoga menuturkan membuat latar belakang terlebih dahulu secara penuh baru kemudian membuat figur atau obyek-obyek kartunal dengan mendahulukan outline gambar yang berwarna hitam. Salah satu inspirasi obyek-obyek tersebut ialah salamander (makhluk hidup yang bentuknya mirip kadal, dengan tubuh ramping, hidung pendek, dan ekor yang panjang). Pada proses selanjutnya, situasi jiwa serta ide-ide spontan saat ia melukis langsung diekpresikannya pada kanvasnya.

Diskusi selanjutnya diteruskan oleh Ahmad Muhlis Siklum yang membawa karya 3 dimensinya yang berbentuk kaleng cat semprot (spray paint) dan mengeluarkan kawat-kawat. Kawat-kawat tersebut keluar dari spray gun (bagian yang berfungsi untuk mengeluarkan cat) membentuk komposisi garis-garis lengkung dan ujung kawat itu kembali masuk pada kaleng cat semprot. Ketebalan kawat yang beragam menambah keunikan komposisi “semprotan” kaleng cat tersebut. Keseluruhan karya 3 dimensi itu berwarna putih tulang. Ahmad Muhlis Siklum memaparkan bahwa kaleng cat semprot itu diibaratkan ialah dirinya, dan kawat-kawat yang keluar dari spray gun adalah segala hal (perbuatannya ataupun perkataannya) yang akan kembali kepada dirinya sendiri.

(behind the scene)

Perupa muda berikutnya yang mempresentasikan karyanya ialah Jambrong, namun karya aslinya tidak dibawa, sehingga semua peserta diskusi mengapresiasi melalui foto karya Jambrong yang ada di gawainya masing-masing. Karyanya berupa ranting-ranting pohon yang ia lilit menggunakan kertas tissue dan kemudian dirangkai kait mengkait. Menurutnya karya itu masih 7%, sehingga saat proses diskusi salah satu peserta mengatakan bahwa karya tersebut tak ubahnya tumpukan kayu bakar dan tidak memiliki komposisi yang artistik sama sekali, sontak semua peserta tertawa. Jambrong mengatakan bahwa ranting-ranting pohon yang ia komposisikan itu merupakan pengembangan bentuk huruf-huruf hijaiyah. Dalam forum ini, Jambrong berusaha mencoba alternatif lain dari karya yang biasa ia kerjakan. Jambrong terbiasa berkarya kaligrafi dengan medium kanvas.

Setelah kita semua saling sahut-menyahut berkomentar (ibarat iklan rokok: belum pintar kalo belum komen) karya maupun proses kreatif Jambrong, maka diskusi selanjutnya membicarakan karya Fathur yang berwujud 3 dimensi. Karya Fathur menggunakan bahan plat cetak offset bekas, ada bagian-bagian permukaan yang diolah dan memiliki kontur maupun yang rata apa adanya. Bentuk ayam yang ia deformasikan sedemikian rupa sehingga nyaris kehilangan bentuk ayam itu sendiri (cenderung abstrak sih).

            Dinginnya malam semakin melarutkan seluruh konsentrasi peserta saat mendiskusikan karya Fathur. Dan suasana semakin serius saat mas Heri Catur mengapresiasi karya, aturan-aturan kritik formalistik ia paparkan secara gamblang. Ukuran, jarak, kedudukan, maupun gerak. Saya jadi teringat saat masih kuliah nirmana di kampus, menurut Wucius Wong dalam Principles of Two-Dimensional Design (1972) Unsur-unsur Nirmana terbagi menjadi empat grup, yaitu:
1.  Unsur Konseptual (Sebenarnya unsur ini tidak benar-benar ada namun tetap hadir secara maya untuk membentuk Unsur Visual atau unsur yang tampak)
2.    Unsur Visual (ketika unsur konsepstual tampak menjadi bentuk yang nyata)
3. Unsur Relasional (mengatur penempatan dan keterhubungan antar bentuk dalam komposisi. Beberapa unsur dapat dilihat dan tampak nyata seperti Arah dan Posisi. Sementara itu sebagian unsur hanya hadir untuk dirasakan seperti Ruang dan Gravitasi)
4.  Unsur Praktis (Elemen praktis yang mendasari konten dan perluasan fungsi desain yang dihasilkan ketika suatu desain telah diciptakan, berkaitan dengan representasi, pemaknaan, dan fungsi)
Memang yang paling mendasar dalam mengapresiasi sebuah karya seni rupa ialah dengan memahami hal-hal yang nampak oleh mata, karena hal ini bisa diukur secara obyektif. Walaupun tentu saja banyak faktor yang membuat karya itu “bernilai”.
 Disinilah letak perbincangan-perbincangan seputar proses kreatif kami, segala debat maupun kesepakatan akan menjadi refleksi bagi masing-masing peserta. Tentu saja tergantung hati (jiwa) masing-masing, karena segala diskusi ini ialah proses kami ngungkal ati atau mengasah hati.
Siap-siap untuk diskusi selanjutnya…hehehe J  

Berikut ini foto-foto yang sempat kami simpan











Jumat, 14 Februari 2020

Ero Guro: Kecantikan tanpa racun = membosankan

Maboroshimakura 2, 1972 - Toshio Saeki

Ero guro (nansensu), adalah sebuah genre artistik yang berfokus pada erotisme, korupsi seksual, dan dekadensi (kemerosotan (tentang akhlak); kemunduran (tentang seni, sastra). Sebagai sebuah istilah, kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang erotis dan aneh.
Ero guro nansensu merupakan istilah wasei-eigo (adalah kata-kata bahasa Jepang yang dibuat dari menggabungkan dua kata dari bahasa Inggris sehingga terbentuk arti baru yang sama sekali tidak dikenal dalam kosakata bahasa Inggris.) adalah gerakan budaya, seni dan sejarah yang merupakan penggabungan filosofi politik yang berubah menjadi estetika. Seniman, penyair, pembuat film, musisi, dan seni tato telah memadukan konsep pada karya mereka dan menciptakan salah satu gerakan seni pertama yang membentang selama berabad-abad
Hatu, 1972 - Toshio Saeki

Istilah Ero Guro Nansensu berasal dari kata: ero dari "ero(tic)", guro dari "gro(tesque)", dan nansensu dari "nonsense". Dalam kenyataannya, "keanehan" yang tersirat dalam istilah ini merujuk pada hal-hal yang cacat, tidak alami, atau mengerikan. Barang-barang yang bersifat pornografi dan berdarah belum tentu ero guro, dan sebaliknya.
Ero guro nansensu, dicirikan sebagai "Berawal pada masa prewar (sebelum perang), fenomena budaya borjuis yang mengabdikan dirinya untuk eksplorasi yang menyimpang, yang aneh, dan yang konyol," terwujud dalam budaya populer Taisho Tokyo selama tahun 1920-an pada era Shōwa. Periode Shōwa (25 Desember 1926–7 Januari 1989) adalah salah satu nama zaman di Jepang pada abad ke-20. Zaman Shōwa berlangsung pada masa pemerintahan Kaisar Shōwa (Hirohito), sejak Kaisar Hirohito naik tahta pada 25 Desember 1926 hingga wafat pada 7 Januari 1989. Tahun Shōwa berlangsung hingga tahun 64 Shōwa, dan merupakan masa pemerintahan terpanjang dari seorang kaisar di Jepang (62 tahun 2 minggu), walaupun tahun terakhir zaman Shōwa (tahun 64 Shōwa) hanya berlangsung selama 7 hari.

Lucy's Mutation, 2014Takato Yamamoto

Selama zaman Shōwa, Jepang memasuki periode totalitarianisme politik, ultranasionalisme, dan fasisme yang berpuncak pada invasi ke Tiongkok pada tahun 1937. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari masa konflik dan kekacauan di seluruh dunia, seperti halnya Depresi Besar dan Perang Dunia II.

Ecstasy of Linked Circles, 2015Takato Yamamoto

Penulis Ian Buruma menggambarkan suasana sosial saat itu sebagai "hedonisme yang gelisah, kadang-kadang nihilistik yang membawa Weimar Berlin ke pikiran." (Budaya Weimar adalah kemunculan seni dan sains yang terjadi di Jerman selama Republik Weimar, yang terakhir pada saat periode antar perang antara kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I pada 1918 dan Hitler naik ke tampuk kekuasaan pada 1933. pada tahun 1920-an Berlin berada di pusat kesibukan budaya Weimar).

Inspectionism Man, 2012Takato Yamamoto

Akar gaya genre Ero Guro kembali ke seniman seperti Tsukioka Yoshitoshi (1839 - 9 Juni 1892 yaitu seorang seniman Jepang yang secara luas diakui sebagai ahli Ukiyo-e terakhir. Kariernya ada selama dua era yaitu tahun terakhir Jepang feudal kuno, dan tahun pertama Jepang modern baru, Ukiyo-e ialah sebutan untuk teknik cukil kayu yang berkembang di Jepang pada zaman Edo yang digunakan untuk menggandakan lukisan pemandangan, keadaan alam dan kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Dalam bahasa Jepang, "ukiyo" berarti "zaman sekarang," sedangkan "e" berarti gambar atau lukisan. Istilah ukiyo-e sekarang semata-mata digunakan untuk lukisan berwarna-warni (nishiki-e) yang dihasilkan teknik cukil kayu (woodprinting), tetapi sebenarnya pada zaman dulu istilah ukiyo-e juga digunakan untuk lukisan asli yang digambar dengan menggunakan kuas). Seniman Ukiyo-e seperti Utagawa Kuniyoshi mempresentasikan tema serupa dengan perbudakan, pemerkosaan dan penyaliban erotis.

Nemurike, 1972 - Toshio Saeki

Ero guro juga merupakan elemen dari banyak film horor Jepang dan pinku eiga, khususnya pada 1960-an dan 1970-an. Ada seniman Ero Guro modern, beberapa di antaranya mengutip Erotic Grotesque Nonsense sebagai pengaruh pada karya mereka. Para seniman ini mengeksplorasi mengerikan yang bercampur dengan nuansa seksual. Seringkali elemen erotis, bahkan ketika tidak eksplisit, digabung dengan tema aneh dan fitur yang mirip dengan karya H. R. Giger. Yang lain memproduksi karya ero guro dengan tema pornografi seperti hentai Jepang yang melibatkan darah, kengerian, cacat, kekerasan, mutilasi, urin, enema, atau feses. Seniman manga guro terkenal termasuk Suehiro Maruo, Hajime Yamano, Jun Hayami, Go Nagai, Shintaro Kago, Toshio Maeda, Henmaru Machino, Yamamoto Takato, Horihone Saizo, dan Waita Uziga.
Madoromi, 2015Toshio Saeki

Dalam suatu wawancara dengan Artsy, Toshio Saeki mengatakan "Visi yang saya perlihatkan kepada orang-orang adalah hal-hal yang tidak dapat dipahami dari ero [erotika] dan misteri," kata Saeki kepada Artsy. "Jika kenyataan yang tersembunyi di jiwaku — bahkan jika itu hanya bagian terkecil darinya - mampu membangkitkan sesuatu di mata penonton, maka niatku telah tercapai." 
Toshio Saeki adalah seorang ilustrator, pelukis, dan “Godfather of Japanese Erotica” telah meninggal pada usia 74 tahun (Lahir pada tahun 1945 di Miyazaki - Meninggal 21 November 2019).
Nagusame, 1976Toshio Saeki


Selasa, 11 Februari 2020

Environmental Art: Bekerja dengan alam secara keseluruhan


Cairn, 1997 - Andy Goldworthy

Environmental Art (Seni lingkungan) adalah serangkaian praktik artistik yang mencakup pendekatan historis terhadap alam dalam seni dan jenis karya yang termotivasi secara ekologis dan bermotivasi politik. Seni lingkungan telah berevolusi dari kepedulian formal, bekerja dengan bumi sebagai bahan pahatan, menuju hubungan yang lebih dalam dengan sistem, proses dan fenomena dalam hubungan dengan kepedulian sosial. Pendekatan sosial dan ekologis yang terintegrasi dikembangkan sebagai sikap etis dan restoratif muncul pada 1990-an.
Boulder on the Chalk Stones TrailAndy Goldworthy

Menurut Andy Goldsworthy, "Setiap karya tumbuh, tetap, meluruh (hancur) - bagian integral dari siklus yang ditunjukkan foto pada ketinggiannya, menjadi sebuah penanda waktu ketika pekerjaan itu sedang dikerjakan adalah sesuatu yang paling hidup. Ada intensitas tentang pekerjaan pada puncaknya yang saya harap adalah dinyatakan dalam gambar. Proses dan pembusukan tersirat.
Environmental Art sebagai "gerakan (movement)" dimulai pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, muncul karena meningkatnya kritik terhadap bentuk dan praktik pahatan tradisional yang semakin lama semakin ketinggalan zaman dan berpotensi tidak selaras dengan lingkungan alam.
Dalam environmental art, perbedaan penting dapat dibuat antara seniman lingkungan yang tidak mempertimbangkan kemungkinan kerusakan lingkungan yang mungkin ditimbulkan oleh karya seni mereka, dan mereka yang tujuannya adalah untuk tidak membahayakan alam.
Phase mother earth, 2008 - Nobuo Sekine

Istilah "Environmental Art" seringkali mencakup masalah "ekologis" tetapi tidak spesifik untuk mereka. Ini terutama merayakan hubungan seniman dengan alam menggunakan bahan-bahan alami. Konsep ini paling baik dipahami dalam hubungannya dengan seni bumi / daratan yang bersejarah dan bidang seni ekologi yang berkembang. Lapangan ini interdisipliner dalam kenyataan bahwa seniman lingkungan merangkul ide-ide dari sains dan filsafat. Praktik ini mencakup media tradisional, media baru, dan bentuk produksi sosial yang kritis. Pekerjaan mencakup berbagai kondisi lanskap / lingkungan dari pedesaan, hingga pinggiran kota dan perkotaan serta industri perkotaan / pedesaan.

South bank circle,1991 - Richard Long

Dapat dikatakan bahwa Environmental Art (seni lingkungan) dimulai dengan lukisan gua Paleolitik nenek moyang kita. Meskipun tidak ada bentang alam (belum) ditemukan, lukisan gua mewakili aspek-aspek alam lainnya yang penting bagi manusia purba seperti binatang dan tokoh manusia. "Itu adalah pengamatan prasejarah tentang alam. Dalam satu atau lain cara, alam selama berabad-abad tetap menjadi tema preferensial seni kreatif." Contoh-contoh karya Environmental Art (seni lingkungan) yang lebih modern berasal dari lukisan dan representasi lanskap. Ketika seniman melukis di tempat mereka mengembangkan hubungan yang mendalam dengan lingkungan sekitar dan cuacanya dan membawa pengamatan dekat ini ke kanvas mereka. 


Observatorium - Robert Morris


Jumat, 07 Februari 2020

Stuckisme: "Your paintings are stuck, you are stuck! Stuck! Stuck! Stuck!"


Breakdown - Philip Absolon (uploaded 2008, date of creation not known)

Stuckism adalah gerakan seni internasional yang didirikan pada 1999 oleh Billy Childish dan Charles Thomson untuk mempromosikan seni lukis figuratif yang bertentangan dengan seni konseptual. Pada Mei 2017 grup awal dari 13 seniman Inggris kemudian berkembang menjadi 236 grup di 52 negara. Childish dan Thomson telah mengeluarkan beberapa manifesto. Yang pertama adalah The Stuckists, yang terdiri dari 20 poin dimulai dengan "Stuckism is a quest for authenticity" (Stuckism adalah pencarian keaslian). Remodernisme, manifesto terkenal lainnya dari gerakan ini, adalah kritik terhadap postmodernisme; itu bertujuan untuk kembali ke semangat modernisme sejati, untuk menghasilkan seni dengan nilai spiritual terlepas dari gaya, subjek atau medium. Dalam manifesto lain mereka mendefinisikan diri sebagai anti-seni yang bertentangan dengan seni dan seni.


Billy and Dolli,1996 - Billy Childish

Setelah dipamerkan di galeri kecil di Shoreditch, London, pertunjukan pertama Stuckists di sebuah museum publik utama diadakan pada 2004 di Walker Art Gallery, sebagai bagian dari Liverpool Biennial. Kelompok ini telah berdemonstrasi setiap tahun di Tate Britain melawan Turner Prize sejak tahun 2000, kadang-kadang mengenakan kostum badut. Mereka juga keluar sebagai oposisi terhadap Seniman Muda Inggris yang dilindungi oleh Charles Saatchi.
survivor, 2001 - Godfrey Blow

Meskipun lukisan adalah bentuk artistik yang mendominanasi Stuckism, beberapa seniman  juga menggunakan media lain seperti fotografi, patung, film dan kolase juga bergabung, dan berbagi perlawanan Stuckist terhadap konseptualisme dan seni-ego.
Nama "Stuckism" diciptakan pada Januari 1999 oleh Charles Thomson sebagai tanggapan terhadap puisi yang dibacakan kepadanya beberapa kali oleh Billy Childish. Di dalamnya, Childish membacakan bahwa mantan pacarnya, Tracey Emin mengatakan dia "terjebak! Terjebak! Terjebak!" dengan seni, puisi, dan musiknya. Belakangan pada bulan itu, Thomson mendekati Childish dengan maksud untuk ikut mendirikan sebuah kelompok seni yang disebut Stuckism, yang disetujui Childish, dengan dasar bahwa Thomson akan melakukan pekerjaan untuk kelompok itu, karena Childish sudah memiliki jadwal penuh.
Ada sebelas anggota pendiri lainnya: Philip Absolon, Frances Castle, Sheila Clark, Eamon Everall, Ella Guru, Wolf Howard, Bill Lewis, Sanchia Lewis, Joe Machine, Sexton Ming, dan Charles Williams. Keanggotaan telah berkembang sejak didirikan melalui kolaborasi kreatif: kelompok ini awalnya dipromosikan berkarya di bidang lukis, namun para anggotanya ternyata juga berkarya di berbagai media lainnya, termasuk puisi, fiksi, pertunjukan, fotografi, film dan musik.

Sailor Barfight 1981,2010 - Joe Machine

The Laughter of Small White Dogs (uploaded 2008)  - Bill Lewis