Selasa, 09 April 2019

Makara berwujud Kala pada Keris



Makara berwujud Kala pada Keris

Hiasan Kala dan Makara pada umumnya ditemui pada candi. Hiasan kepala Kala senantiasa berada di atas pintu masuk candi, sedangkan Makara diletakkan pada sisi kanan dan kiri bagian bawah pintu masuk candi, pada keris istilah Makara juga sering ditemui dan terletak pada bagian gandik keris walaupun wujudnya berbentuk kepala Kala.

Oleh: Purnomo Sigit, S.Pd
April 2019

            Makara merupakan binatang mitologi berbelalai gajah, surai singa, paruh burung nuri, dan ekor seperti ikan, yang kesemuanya itu merupakan lambang air dan lambang berahi (Indonesia Heritage: Sejarah Awal, 2002). Umumnya makara ditemui dalam bentuk patung pada gapura atau pintu masuk sebagian besar candi-candi yang ada di Indonesia.
            Kala merupakan makhluk legenda yang diciptakan Siwa untuk membunuh seorang raksasa (Indonesia Heritage: Sejarah Awal, 2002). Kala juga merupakan wujud iblis bernama Rahu yang mencuri air keabadian, kepalanya dipenggal oleh dewa. Karena telah meminum sebagian air keabadian maka ia tidak dapat mati (bersifat kekal).
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) dijelaskan bahwa keris ialah senjata tajam bersarung, berujung tajam, dan bermata dua (bilahnya ada yang lurus, ada yang berkeluk-keluk).
            Hiasan kala dan makara adalah hiasan yang saling berpasangan dan sering dijumpai pada sebagian besar candi, baik candi Hindu maupun candi Budha. Oleh karena berpasangan banyak yang menyebutnya kalamakara. Jika diartikan menurut harfiahnya kala adalah monster yang jahat (Zoetmulder, 1995). Kala merupakan salah satu pengikut Dewa Siwa yang setia karena dia selalu ditugaskan sebagai penjaga dari tempat suci yang digunakan dewa Siwa. Kala selalu diwujudkan dengan bentuknya yang besar dengan mata melotot dan memiliki gigi taring yang panjang keluar. Pada dasarnya kala merupakan seorang penjaga yang ingin selalu memakan dari sesuatu kenegatifan dan ketidak sucian pada setiap orang yang akan memasuki ke tempat dewa Siwa. Oleh karena itu, kala selalu berada di bagian atas pintu masuk tempat pemujaan dewa Siwa. Hiasan kepala kala pada periode awal ditampilkan tanpa ada rahang, seperti yang terdapat di candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Namun pada periode berikutnya ada perubahan wujudnya, seperti yang terdapat di candi Jago, Malang, Jawa Timur. Bentuk kala yang ada pada candi Jago menunjukkan dua jari (jari telunjuk dan jari tengah) dari kedua tangannya. Walaupun secara spesifik memiliki sedikit perbedaan karakteristik namun secara umum bentuk kala selalu mirip, yaitu memiliki wajah yang menyeramkan, bermata besar dan melotot, berhidung besar, bertaring.



Makara dalam bahasa Sansekerta adalah monster laut yang bentuknya menyerupai lumba-lumba, buaya, dan gajah karena dari semuanya itu adalah lambang penghormatan kepada dewa Kama (William, 1999). Seiring dengan berjalannya waktu, makara menjadi binatang yang dimitoskan sehingga dalam bahasa Jawa Kuno dianrtikan sebagai binatang mitos yang menyerupai ikan, buaya, dan gajah (Zoetmulder, 1995). Namun, tugas dari binatang mitos ini adalah sebagai penjaga dewa Siwa yang pada bangunan candi Hindu diukirkan dalam bagian pintu masuk ke dalam candi. Binatang dalam candi Hindu selalu digambarkan sebagai makhluk dunia bawah sehingga makara ditempatkan di bagian bhūrloka oleh masyarakat pengikut Hindu Siwa.


Kisah legenda yang paling tua di Jawa yang membahas keris terdapat di Serat Aji Saka. Pada waktu itu Sang Aji Saka menjadi raja penguasa tanah Jawa, maka berkeinginan mengambil pusaka keris yang ditinggalkan di Gunung Kendhil. Keris itu dikuasakan kepada abdinya yang bernama Sambada. Sang Aji Saka mengutus abdinya yang bernama Dora untuk mengambil pusaka keris itu. Setelah sampai di Gunung Kendhil, Sambada tidak mau memberikan keris pusaka itu, karena dia mendapat amanah dari Sang Aji Saka, bahwa keris itu tidak boleh diberikan kepada siapapapun kecuali sang Aji Saka. Maka terjadi percekcokan meningkat menjadi perkelahian, dan pada akhirnya dua abdi tersebut mati bersama.
Sang Aji Saka telah menunggu lama tetapi utusannya tak kunjung datang, kemudian menyusul ke Gunung Kendhil. Sang Aji Saka kemudian merasa berdosa karena dua abdinya mati bersama (sampyuh) maka sebagai peringatan akan kesalahan dan dosanya, diciptakanlah aksara yang kelak kemudian menjadi huruf  Jawa, yaitu:
ha, na, ca, ra, ka.
da, ta, sa, wa, la.
pa, da, ja,  ya, nya. 
ma, ga, ba, tha, nga.  
Artinya :
ada utusan,
sama-sama berkelahi,
sama-sama saktinya ,
sama-sama menjadi bangkai.
(Serat Aji Saka, N.D. halaman 9 –34).
Berbicara tentang keris, tentu saja tidak hanya ditinjau atau dinilai dari aspek kebendaannya saja, namun masih banyak faktor yang bisa dikaji selain wujud keris itu sendiri. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu tentang nilai-nilai filosofi atau makna simbolis dari bentuk-bentuk maupun corak-corak tertentu yang ada pada sebilah keris,  nilai-nilai spiritual, etika, estetika, sosial, bahkan sampai nilai ekonomi.
Menurut Koesni (1979) keris berasal dari kata Ke (singkatan dari Kekeran) dan Ris (singkatan dari Aris), kekeran memiliki arti pagar; penghalang; peringatan; pengendalian. Sedangkan aris memiliki pengertian tenang; lambat; halus. Maksudnya adalah bahwa keris diciptakan oleh mPu dengan tujuan dapat ngeker, yaitu sebagai pagar atau pengingat agar pemilik keris tersebut bisa mengendalikan diri secara aris atau secara halus dan tenang, tidak tergesa-gesa dan jauh dari sifat ingin pamer maupun sifat-sifat negatif yang lainnya.

Dalam dunia perkerisan dikenal istilah Ricikan. Ricikan yaitu istilah untuk menyebut bagian-bagian detail atau komponen-komponen dari bilah keris yang menjadi ciri khas suatu bentuk keris. Sebilah keris yang lengkap mempunyai 26 macam bagian atau ricikan dan masing-masing ricikan memiliki nama. Untuk penamaan ricikan sifatnya baku dan sesuai dengan pakem. Nama-nama ricikan telah dipakai turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Secara umum, penempatan ricikan keris berada di bagian sor-soran. Hal itu ditengarai untuk tetap menjaga fungsi bilah keris yang dipakai sebagai senjata tusuk, sehingga peletakan ricikan berada di bagian bawah dengan maksud tidak menganggu fungsinya sebagai senjata saat dipakai untuk menusuk. Penjelasan tentang pakem ricikan keris Jawa dapat dijumpai pada manuskrip lama. Di antaranya adalah Serat Centhini, yang banyak diacu oleh tulisan-tulisan lain tentang keris yang muncul sesudahnya.

Dari ricikan keris ada bagian yang disebut gandik. Gandik ialah bagian muka keris, jika tidak memakai gandik maka area ini biasanya diisi oleh kembang kacang. Pada beberapa keris tertentu baik yang lurus maupun luk, bagian gandik ini dihiasi motif berwujud kala. Ciri-ciri kala sangat nampak diantaranya bentuk mata yang lebar dan melotot, memiliki taring, dan ornamen lainnya. Kedalaman relief kala pada gandik keris ini juga bermacam-macam, ada yang sangat timbul atau menonjol dan ada juga yang tidak terlalu begitu menonjol. Namun yang menjadi koreksi disini ialah penyebutan relief atau hiasan berwujud kala pada gandik tersebut di dunia perkerisan diistilahkan dengan makara. Hal ini tentu saja menyimpang dari bentuk makara sebenarnya. Namun jika kita kaji dari letak kedudukan, maka sudah sewajarnya makara terletak di bagian bawah, karena memang makara adalah simbol dari binatang. Jika pada candi, bagian bawah disebut dengan bhūrloka. Bhūrloka berasal dari dua leksem yaitu Bhūr ‘bumi atau dunia’ dan loka ‘ruang yang luas’ (Zoetmulder, 1995). Penamaan ini berdasarkan pada letak Bhūrloka yang berada di bagian paling dasar pada candi Hindu dan bisa dibilang bagian ini adalah pondasi dari bangunan candi tersebut. Bentuk dasar dari bagian ini adalah persegi dengan beberapa hiasan ornamen yang mengitarinya sebagai representasi dunia. Simbol yang ada di bagian ini merupakan cerminan dari kehidupan dunia yang penuh dengan hawa nafsu.





Maka penyebutan makara yang terletak pada gandik keris menurut penulis sudah tepat, namun yang perlu dikoreksi ialah bentuk atau wujudnya yang menyimpang atau bahkan tidak merepresentasikan bentuk makara itu sendiri. Baik kala maupun makara semuanya itu ialah makhluk mitos yang memiliki makna atau mengandung penafsiran tertentu. Mitos ialah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/mitos).
Dari paparan di atas tentu dapat disimpulkan bahwa secara kedudukan atau letak makara pada keris sudah sesuai dengan pengertian makara itu sendiri, yakni terletak pada bagian bawah. Karena makara adalah simbol dari binatang yang merepresentasikan hawa nafsu atau berahi. Kedudukan hawa nafsu atau berahi terletak pada dunia bagian bawah yang harus ditaklukkan oleh manusia agar bisa mencapai swargaloka. Swargaloka terdiri dari dua kata, yaitu swarga ‘surga’ dan loka ‘ruang yang luas’ (Zoetmulder, 1995). Swargaloka merupakan bagian puncak bangunan candi Hindu dan merepesentasikan surga atau dunia kahyangan tempat para dewa. Jika manusia yang terletak pada bhuwaloka tidak mampu mengendalikan syahwatnya maka ia tidak lebih baik daripada binatang. Bhuwahloka terdiri dari dua kata bwah ‘udara atau langit’ dan loka ‘ruang yang luas’. Kesatuan maknanya bhuwahloka diartikan sebagai dunia perantara atau dunia langit (Zoetmulder, 1995). Hal tersebut karena posisi bhuwahloka berada pada bagian tengah candi Hindu. Pada bagian tersebut dipercaya sebagai pertemuan kedua dunia, yakni dunia manusia dan dunia para dewa.
Walaupun letak makara yang berada di keris bagian bawah sudah sesuai, namun secara bentuk atau wujudnya maka bentuk makara pada keris perlu ditinjau lebih dalam lagi, karena sebagian besar bentuk makara pada keris merupakan wujud kala. Hal ini tentunya juga menjadi evaluasi bersama, baik para mPu pembuat keris, kolektor, budayawan, maupun praktisi-praktisi yang berkecimpung di dunia perkerisan. Sehingga ada persamaan wujud dan makna istilah, karena baik keris, candi, wayang, batik, maupun karya seni yang lainnya adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dan merupakan budaya bangsa asli Indonesia yang wajib kita jaga dan lestarikan bersama.

Daftar bacaan:
Ferdi Arifin. Representasi Simbol Candi Hindu Dalam Kehidupan Manusia: Kajian Linguistik Antropologis,  Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 16, No. 2, Agustus 2015: 12-20
Peran Keris Dalam Sejarah dan Budaya Jawa, Bagyo Suharyono, http://www.wacana.co/2009/06/peran-keris-dalam-sejarah/
INDONESIA HERITAGE: SEJARAH AWAL, Dr. John Miksic, 2002
Koesni. 1979. Pakem Pengetahuan Tentang Keris. Semarang: CV Aneka Ilmu
MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN: KERIS. Unggul Sudrajat & Dony Satryo Wibowo. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan-Badan Penelitian dan Pengembangan-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014


Selasa, 02 April 2019

CANDI: LAMBANG ALAM SEMESTA

Antara abad ke-7 dan ke-15, ratusan bangunan keagamaan didirikan dari batu bata dan batu di Jawa, Sumatera, dan Bali. Bangunan itu dinamakan candi. Istilah ini juga dipakai untuk bangunan-bangunan pra-Islam lainnya, termasuk gapura dan babkan tempat pemandian, namun wujud utamanya adalah tempat pemujaan.

Fungsi Candi Kata "candi" pada umumnya dianggap berasal dari kata candikagrha, nama tempat tinggal Candika, Dewi Kematian dan permaisuri Siwa. Oleh karenanya candi dihubungkan dengan kematian: candi seringkali dibangun untuk menghormati raja atau ratu yang meninggal. Secara harfiah bisa ditafsirkan bahwa candi adalah bangunan yang digunakan untuk keperluan pemakaman, atau bahkan sebagai makam, tetapi kenyataannya candi dikaitkan dengan kematian dalam cara yang berbeda sama sekali.
Candi dibangun sebagai tempat pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal. Para raja dipercaya sebagai titisan dewa tertentu, wakil para dewa di bumi, yang berkuasa atas manusia untuk melindungi susunan jagad bagi para dewa. Ketika meninggal, raja bersatu kembali dengan dewa penitisnya dan kemudian diabadikan sebagai arca yang melambangkan dewa tersebut. Ketika ditempatkan dalam ruang tengah candi, arca tersebut menjadi sasaran pemujaan.




Salah satu fungsi utama candi ialah untuk melindungi arca dari cuaca dan dari pandangan rakyat biasa. "Jiwa" dewa tidak tinggal di dalam arca sepanjang waktu. Oleh karenanya sang dewa harus diundang melalui upacara-upacara agar turun dan menghuni arca tersebut untuk sementara waktu. Pada saat itu arca boleh dilihat oleh para pemuja, tetapi hanya pendeta yang dibolehkan memasuki ruang pemujaan.


Gunung Candi
Prasasti-prasasti Jawa kuna seringkali menyebut candi sebagai gunung. Pemuliaan terhadap gunung dimulai sejak zaman prasejarah, dan mitologi India pun mengandung unsur-unsur yang segera dikenali oleh orang Jawa. Dalam mitologi Hindu-Buda, Gunung Meru adalah sebuah gunung di pusat jagad yang berfungsi sebagai pusar bumi. Gunung tersebut muncul dari dalam bumi dan mencapai tingkat tertinggi surga. Gunung juga merupakan tempat tinggal para dewa. Oleh karenanya gunung kosmis merupakan lambang alam semesta. Candi dan hiasan arsitekturnya dapat ditafsirkan berdasarkan perlambangan ini.

Ketiga tingkat candi mewakili triloka, yaitu tiga dunia yang kesatuannya merupakan alam semesta. Kaki candi mewakili dunia manusia, dinamakan bhurloka. Tingkat di atasnya, badan candi, mewakili bhuvarloka atau dunia untuk yang disucikan. Di sinilah seorang pemuja dapat berhubungan dengan dewa dan sebaliknya sang dewa menerima pemujaan. Tingkat tertinggi, atap candi, mewakili dunia dewa-dewa atau svarloka.
Keistimewaan arsitektur candi dirancang untuk menekankan makna perlambangnya sebagai tiruan Gunung Meru. Dasar candi didominasi oleh rangkaian hiasan perbingkaian mendatar pada permukaannya. Pahatan di sini kebanyakan berupa pola bangun berulang dan taru, sedang dinding badan candi dipenuhi segala macam corak dan rancangan dengan tujuan untuk menciptakan suasana "dunia lain".
Unsur-unsur seperti kala-makara menghiasi pintu masuk serta relung-relung candi. Menurut salah satu cerita, Kala merupakan makhluk legenda yang diciptakan oleh Siwa untuk membunuh seorang raksasa. Menurut versi lain, Kala merupakan wujud iblis bernama Rahu yang mencuri air keabadian. Kepalanya dipenggal oleh dewa, tetapi karena sudah meminum sebagian air, ia tak dapat mati. Karena itulah Kala dalam seni pahat kuna dibuat tanpa rahang bawah, tetapi pada masa kemudian rahangnya ditampilkan lagi. Muncul berbagai variasi seperti kaki depan atau hiasan mewah dengan satu mata.
Makara merupakan binatang mitologi berbelalai gajah, surai singa, paruh burung nuri, dan ekor seperti ikan, yang kesemuanya merupakan lambang air dan lambang birahi. Bendera yang melambangkan Kamadewa, dewa cinta, dihias makara. Patung makara ditemukan pada gapura sebagian besar candi klasik awal.
Makara jarang ditemukan pada candi-candi klasik akhir di Jawa, tetapi di Sumatera terus digunakan di tempattempat seperti Padang Lawas.
Adegan-adegan yang menggambarkan gandharva, vidyadhara, dan makhluk-makhluk sorga yang terbang melayang, sederetan naga menyangga seuntai teratai, ukiran mewah pada panel dan antefix, serta banyak hiasan lain dimaksudkan untuk melukiskan dunia fana. Tiga lapis atap candi serta bubungan yang disusun di sekeliling dan di bawah puncak candi melambangkan puncak Gunung Meru.

Peripih
Struktur dasar sebuah candi Siwa di Jawa memperlihatkan pembagian menjadi tiga bagian tegak. Perhatikan juga perigi di bawah arca atau lingga tempat peripih akan diletakkan.
Peripih di bawah bagian tengah candi ada perigi untuk peripih. Dahulu, peripih diduga wadah untuk mengubur abu jenazah seorang raja. Kenyataannya, peripih adalah wadah untuk menaruh unsur-unsur yang melambangkan dunia materi: emas, perak, perunggu, batu akik, dan biji-bijian. Peripih biasanya berupa peti batu yang dibagi dalam bagian-bagian yang diatur dalam pola seperti mandala, sembilan atau 25 bilik. Angka sembilan penting karena sesuai dengan empat mata angin, empat titik tengah, dan titik puncak. Beberapa teks Tantris yang populer di Jawa masa lalu berisi aturan upacara untuk membangun tempat suci dengan benda-benda upacara harus dikuburkan. Barangkali inilah asal-mula kebiasaan membuat peripih.
Arca dewa disemayamkan di ruang dalam di atas peripih. Lubang kecil dibuat pada langit-langit ruangan dan di atasnya terdapat relung kecil, tempat tinggal sementara sang dewa. Selama upacara pranapratistha yang diadakan untuk menghidupkan arca, dewa dipanggil dan diyakini oleh para pemujanya akan turun dari surga untuk menempati tempat tinggalnya di atap candi. Dewa selanjutnya akan turun lagi ke ruang bawah dan masuk ke dalam arca. Pada waktu yang sama, unsur-unsur duniawi yang telah dimasukkan ke dalam perigi "dihidupkan" setelah terkena air suci bekas penyucian arca. Air akan mengalir melalui cerat alas arca dan kemudian melalui celah-celah lantai batu, masuk ke perigi, dan akan mengenai peripih. Kini arca dianggap hidup dan mampu menerima penghormatan atau pun berhubungan dengan para pemuja.





Jumat, 01 Maret 2019

Pentingnya Materi Tentang Keris Dimuat Dalam Pelajaran Seni Budaya Agar Generasi Milenial Tidak Gagal Paham Menilai Warisan Budaya Bangsa



Abstrak
Tulisan ini membahas tentang upaya pelestarian keris yang merupakan warisan budaya leluhur kepada para generasi milenial agar mereka tidak gagal paham dan mendapatkan informasi yang benar tentang keris. Melalui kurikulum pendidikan formal maka pengetahuan tentang keris akan tersampaikan secara berkesinambungan. Dengan demikian maka keris sebagai warisan budaya akan tetap lestari dan terus berkembang.
Kata kunci: Keris, milenial, gagal paham
Abstract
This paper discusses keris conservation efforts which are ancestral cultural heritage to millennial generations so that they do not fail to understand and get correct information about keris. Through the formal education curriculum, the knowledge of keris will be conveyed continuously. Thus the keris as a cultural heritage will remain sustainable and continue to grow.
Keywords: Keris, millennial, fail to understand

I.     Pendahuluan
Semenjak keris ditetapkan sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau mahakarya warisan kemanusiaan yang berwujud tak benda oleh UNESCO (United Nation for Educational Scientific and Cultural Organisation) dalam sidangnya di Paris pada tanggal 25 November 2005, upaya pelestarian keris dari pemerintah maupun masyarakat umum melalui komunitas ataupun lembaga-lembaga kemasyarakatannya baru terbatas pada even-even pameran yang biasanya disertai bursa atau pasar keris dan terkadang ada semacam workshop kecil oleh mPu di kegiatan tersebut. Namun belum nampak upaya pelestarian keris secara signifikan melalui kurikulum pendidikan yang berupa materi pelajaran untuk diajarkan di sekolah-sekolah, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA yang dilegitimasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Berbicara tentang keris, tentu saja tidak hanya ditinjau atau dinilai dari aspek kebendaannya saja, namun masih banyak faktor yang bisa dikaji selain wujud keris itu sendiri. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu tentang nilai-nilai filosofi atau makna simbolis dari bentuk-bentuk maupun corak-corak tertentu yang ada pada sebilah keris,  nilai-nilai spiritual, etika, estetika, sosial, bahkan sampai nilai ekonomi.
Jika hal-hal tersebut tidak diajarkan semenjak dini, maka penilaian masyarakat terhadap keris semakin menjauhi nilai-nilai luhur yang ada pada keris. Bahkan ada beberapa kelompok masyarakat yang membakar dan merusak keris dan menganggap bahwa memiliki keris merupakan suatu kegiatan yang menyekutukan Tuhan, tentunya hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para mPu melalui sebilah keris.
Menurut Koesni (1979) keris berasal dari kata Ke (singkatan dari Kekeran) dan Ris (singkatan dari Aris), kekeran memiliki arti pagar; penghalang; peringatan; pengendalian. Sedangkan aris memiliki pengertian tenang; lambat; halus. Maksudnya adalah bahwa keris diciptakan oleh mPu dengan tujuan dapat ngeker, yaitu sebagai pagar atau pengingat agar pemilik keris tersebut bisa mengendalikan diri secara aris atau secara halus dan tenang, tidak tergesa-gesa dan jauh dari sifat ingin pamer maupun sifat-sifat negatif yang lainnya.
Agar nilai-nilai luhur yang ada pada keris tidak punah dan tidak disalahpahami oleh para generasi milenial, maka saya selaku pecinta keris sekaligus pengajar mata pelajaran seni budaya di salah satu sekolah menengah pertama di kota Malang mengangap bahwa materi tentang keris perlu diajarkan semenjak dini di sekolah agar semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air pada diri siswa semakin kuat. Diajarkannya materi tentang keris di sekolah merupakan sebuah solusi pelestarian keris di era modernisasi yang berkesinambungan.

II.  Isi
Keris merupakan hasil budaya asli bangsa Indonesia. Dalam buku-buku yang membahas periodisasi keris, dapat diketahui bahwa pada tahun 125 Masehi telah diciptakan keris. Pencipta keris tersebut bernama mPu Ramadi atau disebut juga mPu Ramahadi. Ada 3 bilah keris ciptaannya, masing-masing diberi nama Sang Larngatap, Sang Pasopati, dan Sang Cundrikarum. Periodisasi keris di Indonesia dibagi menjadi beberapa zaman yaitu :
1.      Zaman kuno (125 M – 1125 M)
2.      Madya kuno ( 1126 M – 1250 M)
3.      Sepuh tengahan (1251 M – 1459 M)
4.      Tengahan (1460 M – 1613 M)
5.      Nom (1614 M – 1945 )
6.      Kamardikan (1945 – sekarang)
Dalam buku mata pelajaran Seni Budaya yang diajarkan di SD, SMP, maupun SMA, materi khusus yang membahas keris belum pernah disinggung secara khusus. Dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia, banyak peristiwa penting yang melibatkan keris. Sebagai contoh kisah legenda Ajisaka, kisah mPu Gandring dan Ken Arok yang tertulis di kitab Pararaton, kisah peperangan Pangeran Diponegoro, sampai kisah perang puputan (penghabisan) di Bali yaitu Puputan Klungkung yang merupakan perang penghabisan antara Kerajaan Klungkung melawan Belanda pada 28 April 1908. Selain itu keris seringkali menjadi cinderamata yang diberikan presiden untuk pemimpin-pemimpin negara lain, seperti keris yang diberikan presiden RI pertama Ir. Soekarno kepada presiden Kuba Fidel Castro saat kunjungannya ke Kuba pada tanggal 9-14 Mei 1960. Begitu juga cinderamata yang diberikan mantan presiden RI ke-2 Soeharto kepada Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz Al Saud dalam kunjungannya terakhir pada tahun 1970 juga berupa keris. Pemberian cinderamata yang berupa keris itu merupakan salah satu wujud sikap nasionalis dan rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini.
Namun pengetahuan tentang keris sendiri belum pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Sehingga terjadi kekeliruan dalam memahami keris terutama kepada para generasi milenial. Tidak dipungkiri, banyak yang menganggap keris identik dengan klenik atau dunia mistis. Hal ini terjadi karena terputusnya informasi yang benar tentang keris di masyarakat. Informasi-informasi yang tidak benar tersebut justru menjauhkan nilai-nilai luhur yang ada pada keris.
Secara umum pengetahuan tentang keris yang bisa diajarkan di sekolah-sekolah meliputi:
1.        Tangguh yaitu pengetahuan untuk memperkirakan zaman pembuatan keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi dan pamornya. Secara harfiah, tangguh berarti perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, menangguh keris bisa saja salah atau keliru. Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2002) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu: 1) Tangguh Segaluh, 2) Tangguh Pajajaran, 3) Tangguh Kahuripan, 4) Tangguh Jenggala, 5) Tangguh Singasari, 6) Tangguh Majapahit, 7) Tangguh Madura, 8) Tangguh Blambangan, 9) Tangguh Sedayu, 10) Tangguh Tuban, 11) Tangguh Sendang, 12) Tangguh Pengging, 13) Tangguh Demak, 14) Tangguh Panjang, 15) Tangguh Madiun, 16) Tangguh Koripan, 17) Tangguh Mataram Senopaten, 18) Mataram Sultan Agung, 19) Mataram Amangkuratan, 20) Tangguh Cirebon, 21) Tangguh Surakarta, 22) Tangguh Yogyakarta.
2.         Dapur yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau tipe bilah keris. Penamaan dapur keris ada patokannya dan pembakuannya. Serat Centini merupakan salah satu sumber tertulis yang memuat dapur keris yang pakem. memuat rincian jumlah dapur keris sebagai berikut: Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk 3 (tiga) ada 11 macam. Keris luk 5 (lima) ada 12 macam. Keris luk 7 (tujuh) ada 8 macam. Keris luk 9 (sembilan) ada 13 macam. Keris luk 11 (sebelas) ada 10 macam. Keris luk 13 (tigabelas) ada 11 macam. Keris luk 15 (limabelas) ada 3 macam. Keris luk 17 (tujuhbelas) ada 2 macam. Keris luk 19 (sembilan belas) sampai luk 29 (dua puluh sembilan) masing-masing ada semacam. Namun seiring perkembangan zaman, maka bentuk dapur keris juga berkembang, terutama keris yang dibuat pada era setelah kemerdekaan Republik Indonesia (Tangguh Kamardikan).
3.         Pamor yaitu gambaran tertentu berupa garis, lengkungan, lingkaran, noda, titik, atau belang-belang yang tampak pada permukaan bilah keris. Dalam kamus Bahasa Sansekerta, pamor memiliki arti wibawa. Sedangkan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, pamor memiliki arti: 1) baja putih yang ditempatkan pada bilah keris; 2) lukisan pada bilah keris, yang dibuat dari baja putih; 3) ki seri; semarak (keindahan, kemuliaan, dan sebagainya); perbawa. Bentuk-bentuk pamor memiliki makna simbolis tertentu yang biasanya menjadi spirit bagi si pemilik keris. Bahan pamor pada masa lalu umumnya terbuat dari batuan meteorit, namun pada saat ini sangat langka dijumpai keris yang menggunakan bahan meteorit sebagai bahan pamor. Umumnya bahan yang sering digunakan sebagai bahan pamor menggunakan bahan alternatif pengganti meteorit, salah satunya ialah nikel.
4.         Ricikan yaitu istilah untuk menyebut bagian-bagian detail atau komponen-komponen dari bilah keris yang menjadi ciri khas suatu bentuk keris. Sebilah keris yang lengkap mempunyai 26 macam bagian atau ricikan dan masing-masing ricikan memiliki nama. Untuk penamaan ricikan sifatnya baku dan sesuai dengan pakem. Nama-nama ricikan telah dipakai turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
5.         Metalurgi yaitu ilmu tentang pengerjaan logam secara kimiawi dan mekanis yang berkaitan dengan teknik pembuatan keris. Sebuah keris tidak bisa diciptakan dari satu jenis logam saja, namun harus dari campuran beberapa logam. Pada masa lalu campuran logam tersebut berasal dari bebatuan yang berasal dari luar angkasa atau sering disebut meteorit.
            Masih sangat banyak pengetahuan tentang keris yang seharusnya dimuat di buku pelajaran seni budaya secara berkesinambungan dari tingkat SD, SMP, maupun SMA/K. Karena mempelajari keris berarti akan mempelajari besi atau logam, kayu yang digunakan sebagai sarung keris (warangka), tata cara pemakaian maupun fungsi-fungsi keris dan lain sebagainya. Akan sangat menarik jika siswa diajak mengamati secara langsung proses pembuatan keris di tempat pembuatan keris yang disebut besalen.
            Hal tersebut semata-mata untuk memperkuat karakter rasa cinta tanah air atau sikap nasionalis pada diri siswa. Sikap nasionalis bisa ditunjukkan melalui sikap apresiasi terhadap budaya bangsa sendiri serta menjaga kekayaan budaya bangsa. Walaupun siswa yang merupakan generasi milenial adalah sasaran penyampaian materi tentang keris di sekolah, namun bagi para guru yang belum memiliki pengetahuan tentang keris tentu saja harus dituntut untuk mampu menyampaikan materi tersebut. Para guru bisa mendapatkan pengetahuan tentang keris melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh komunitas guru yang diwadahi oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau belajar secara mandiri melalui komunitas-komunitas pelestari keris atau bahkan melalui media internet.
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) telah digulirkan sejak tahun 2016 di sekolah-sekolah. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), bapak Muhajir Effendy, Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter merupakan fondasi dan ruh utama pendidikan. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan implementasi dari penguatan karakter yang merupakan salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Nawa Cita.
Agar rasa cinta dan memiliki budaya bangsa terutama pengetahuan tentang keris  melekat pada jiwa para generasi milenial maka salah satu solusinya harus dimulai dari dunia pendidikan. Menurut wikipedia, generasi milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.  Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Keris lebih banyak dikenal oleh generasi yang sudah lanjut atau masyarakat yang usianya sudah dewasa dan secara umum keris kurang begitu populer dimiliki maupun dipelajari para generasi milenial. Pemahaman-pemahan tentang keris yang kurang benar itu tentu saja harus diluruskan melalui kurikulum pendidikan di Indonesia. Dengan begitu informasi yang benar tentang keris tersampaikan dan tertanam pada diri generasi milenial secara berkesinambungan dan menjadikan mereka tidak gagal paham tentang keris. Istilah gagal paham begitu populer di media sosial baik itu facebook, twitter, instagram, maupun yang lainnya pada sekitar tahun 2016. Gagal paham mengandung pengertian keadaan dimana jika seseorang mengalami kurang mengerti atau kurang memahami sebuah topik berita, pembicaraan atau informasi yang diperoleh (https://jennynotestoday.blogspot.com/2015/09/gagal-paham.html).
Peristiwa pelecehan budaya nusantara berkaitan dengan keris oleh Perdana Akhmad Lakoni (PAL)  pada 02 Oktober 2016 penyebabnya terjadi karena para pelaku gagal paham tentang keris. Hal itu karena pemahamannya sepotong-sepotong dan tidak secara menyeluruh memahami budaya tentang keris sehingga menuai kontroversi dan kecaman. Untuk mencegah peristiwa itu terulang maka pengetahuan tentang keris memang harus dimulai sejak dini, sebagaimana cabang-cabang seni lainnya yang dijelaskan dalam kurikulum pendidikan melalui mata pelajaran seni budaya. Dengan cara seperti itu tentunya ada harapan baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan tentang keris baik secara kebendaannya dan aspek-aspek lain yang mengikutinya.


III.   Kesimpulan
Sebagai bagian dari cabang seni rupa yang memiliki kekayaan materi dan keunikan tersendiri, walaupun tingkat kedalaman materi ajar tidak sama di setiap jenjang pendidikan sudah sepatutnya materi tentang keris diajarkan secara formal melalui kurikulum pendidikan, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA/K.
Dengan disampaikannya materi tentang keris di sekolah-sekolah, maka informasi yang benar tentang keris akan dimiliki oleh para generasi milenial. Berbekal pemahaman yang benar tentang keris, maka diharapkan karakter cinta budaya bangsa melekat dan mendarah daging pada generasi milenial. Sehingga keris sebagai warisan budaya asli Indonesia tetap lestari dan mengikuti perkembangan zaman.


Daftar Pustaka
Harsrinuksmo, Bambang. 2002. Ensiklopedia Keris. Jakarta: Gramedia.
Koesni. 1979. Pakem Pengetahuan Tentang Keris. Semarang: CV Aneka Ilmu.
La Nyalla Academia. 2011. The power of iron: keris koleksi La Nyalla Mahmud Mattalitti. Surabaya: La Nyalla Academia.