Jumat, 01 Maret 2019

Pentingnya Materi Tentang Keris Dimuat Dalam Pelajaran Seni Budaya Agar Generasi Milenial Tidak Gagal Paham Menilai Warisan Budaya Bangsa



Abstrak
Tulisan ini membahas tentang upaya pelestarian keris yang merupakan warisan budaya leluhur kepada para generasi milenial agar mereka tidak gagal paham dan mendapatkan informasi yang benar tentang keris. Melalui kurikulum pendidikan formal maka pengetahuan tentang keris akan tersampaikan secara berkesinambungan. Dengan demikian maka keris sebagai warisan budaya akan tetap lestari dan terus berkembang.
Kata kunci: Keris, milenial, gagal paham
Abstract
This paper discusses keris conservation efforts which are ancestral cultural heritage to millennial generations so that they do not fail to understand and get correct information about keris. Through the formal education curriculum, the knowledge of keris will be conveyed continuously. Thus the keris as a cultural heritage will remain sustainable and continue to grow.
Keywords: Keris, millennial, fail to understand

I.     Pendahuluan
Semenjak keris ditetapkan sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau mahakarya warisan kemanusiaan yang berwujud tak benda oleh UNESCO (United Nation for Educational Scientific and Cultural Organisation) dalam sidangnya di Paris pada tanggal 25 November 2005, upaya pelestarian keris dari pemerintah maupun masyarakat umum melalui komunitas ataupun lembaga-lembaga kemasyarakatannya baru terbatas pada even-even pameran yang biasanya disertai bursa atau pasar keris dan terkadang ada semacam workshop kecil oleh mPu di kegiatan tersebut. Namun belum nampak upaya pelestarian keris secara signifikan melalui kurikulum pendidikan yang berupa materi pelajaran untuk diajarkan di sekolah-sekolah, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA yang dilegitimasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Berbicara tentang keris, tentu saja tidak hanya ditinjau atau dinilai dari aspek kebendaannya saja, namun masih banyak faktor yang bisa dikaji selain wujud keris itu sendiri. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu tentang nilai-nilai filosofi atau makna simbolis dari bentuk-bentuk maupun corak-corak tertentu yang ada pada sebilah keris,  nilai-nilai spiritual, etika, estetika, sosial, bahkan sampai nilai ekonomi.
Jika hal-hal tersebut tidak diajarkan semenjak dini, maka penilaian masyarakat terhadap keris semakin menjauhi nilai-nilai luhur yang ada pada keris. Bahkan ada beberapa kelompok masyarakat yang membakar dan merusak keris dan menganggap bahwa memiliki keris merupakan suatu kegiatan yang menyekutukan Tuhan, tentunya hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para mPu melalui sebilah keris.
Menurut Koesni (1979) keris berasal dari kata Ke (singkatan dari Kekeran) dan Ris (singkatan dari Aris), kekeran memiliki arti pagar; penghalang; peringatan; pengendalian. Sedangkan aris memiliki pengertian tenang; lambat; halus. Maksudnya adalah bahwa keris diciptakan oleh mPu dengan tujuan dapat ngeker, yaitu sebagai pagar atau pengingat agar pemilik keris tersebut bisa mengendalikan diri secara aris atau secara halus dan tenang, tidak tergesa-gesa dan jauh dari sifat ingin pamer maupun sifat-sifat negatif yang lainnya.
Agar nilai-nilai luhur yang ada pada keris tidak punah dan tidak disalahpahami oleh para generasi milenial, maka saya selaku pecinta keris sekaligus pengajar mata pelajaran seni budaya di salah satu sekolah menengah pertama di kota Malang mengangap bahwa materi tentang keris perlu diajarkan semenjak dini di sekolah agar semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air pada diri siswa semakin kuat. Diajarkannya materi tentang keris di sekolah merupakan sebuah solusi pelestarian keris di era modernisasi yang berkesinambungan.

II.  Isi
Keris merupakan hasil budaya asli bangsa Indonesia. Dalam buku-buku yang membahas periodisasi keris, dapat diketahui bahwa pada tahun 125 Masehi telah diciptakan keris. Pencipta keris tersebut bernama mPu Ramadi atau disebut juga mPu Ramahadi. Ada 3 bilah keris ciptaannya, masing-masing diberi nama Sang Larngatap, Sang Pasopati, dan Sang Cundrikarum. Periodisasi keris di Indonesia dibagi menjadi beberapa zaman yaitu :
1.      Zaman kuno (125 M – 1125 M)
2.      Madya kuno ( 1126 M – 1250 M)
3.      Sepuh tengahan (1251 M – 1459 M)
4.      Tengahan (1460 M – 1613 M)
5.      Nom (1614 M – 1945 )
6.      Kamardikan (1945 – sekarang)
Dalam buku mata pelajaran Seni Budaya yang diajarkan di SD, SMP, maupun SMA, materi khusus yang membahas keris belum pernah disinggung secara khusus. Dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia, banyak peristiwa penting yang melibatkan keris. Sebagai contoh kisah legenda Ajisaka, kisah mPu Gandring dan Ken Arok yang tertulis di kitab Pararaton, kisah peperangan Pangeran Diponegoro, sampai kisah perang puputan (penghabisan) di Bali yaitu Puputan Klungkung yang merupakan perang penghabisan antara Kerajaan Klungkung melawan Belanda pada 28 April 1908. Selain itu keris seringkali menjadi cinderamata yang diberikan presiden untuk pemimpin-pemimpin negara lain, seperti keris yang diberikan presiden RI pertama Ir. Soekarno kepada presiden Kuba Fidel Castro saat kunjungannya ke Kuba pada tanggal 9-14 Mei 1960. Begitu juga cinderamata yang diberikan mantan presiden RI ke-2 Soeharto kepada Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz Al Saud dalam kunjungannya terakhir pada tahun 1970 juga berupa keris. Pemberian cinderamata yang berupa keris itu merupakan salah satu wujud sikap nasionalis dan rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini.
Namun pengetahuan tentang keris sendiri belum pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Sehingga terjadi kekeliruan dalam memahami keris terutama kepada para generasi milenial. Tidak dipungkiri, banyak yang menganggap keris identik dengan klenik atau dunia mistis. Hal ini terjadi karena terputusnya informasi yang benar tentang keris di masyarakat. Informasi-informasi yang tidak benar tersebut justru menjauhkan nilai-nilai luhur yang ada pada keris.
Secara umum pengetahuan tentang keris yang bisa diajarkan di sekolah-sekolah meliputi:
1.        Tangguh yaitu pengetahuan untuk memperkirakan zaman pembuatan keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi dan pamornya. Secara harfiah, tangguh berarti perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, menangguh keris bisa saja salah atau keliru. Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2002) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu: 1) Tangguh Segaluh, 2) Tangguh Pajajaran, 3) Tangguh Kahuripan, 4) Tangguh Jenggala, 5) Tangguh Singasari, 6) Tangguh Majapahit, 7) Tangguh Madura, 8) Tangguh Blambangan, 9) Tangguh Sedayu, 10) Tangguh Tuban, 11) Tangguh Sendang, 12) Tangguh Pengging, 13) Tangguh Demak, 14) Tangguh Panjang, 15) Tangguh Madiun, 16) Tangguh Koripan, 17) Tangguh Mataram Senopaten, 18) Mataram Sultan Agung, 19) Mataram Amangkuratan, 20) Tangguh Cirebon, 21) Tangguh Surakarta, 22) Tangguh Yogyakarta.
2.         Dapur yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau tipe bilah keris. Penamaan dapur keris ada patokannya dan pembakuannya. Serat Centini merupakan salah satu sumber tertulis yang memuat dapur keris yang pakem. memuat rincian jumlah dapur keris sebagai berikut: Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk 3 (tiga) ada 11 macam. Keris luk 5 (lima) ada 12 macam. Keris luk 7 (tujuh) ada 8 macam. Keris luk 9 (sembilan) ada 13 macam. Keris luk 11 (sebelas) ada 10 macam. Keris luk 13 (tigabelas) ada 11 macam. Keris luk 15 (limabelas) ada 3 macam. Keris luk 17 (tujuhbelas) ada 2 macam. Keris luk 19 (sembilan belas) sampai luk 29 (dua puluh sembilan) masing-masing ada semacam. Namun seiring perkembangan zaman, maka bentuk dapur keris juga berkembang, terutama keris yang dibuat pada era setelah kemerdekaan Republik Indonesia (Tangguh Kamardikan).
3.         Pamor yaitu gambaran tertentu berupa garis, lengkungan, lingkaran, noda, titik, atau belang-belang yang tampak pada permukaan bilah keris. Dalam kamus Bahasa Sansekerta, pamor memiliki arti wibawa. Sedangkan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, pamor memiliki arti: 1) baja putih yang ditempatkan pada bilah keris; 2) lukisan pada bilah keris, yang dibuat dari baja putih; 3) ki seri; semarak (keindahan, kemuliaan, dan sebagainya); perbawa. Bentuk-bentuk pamor memiliki makna simbolis tertentu yang biasanya menjadi spirit bagi si pemilik keris. Bahan pamor pada masa lalu umumnya terbuat dari batuan meteorit, namun pada saat ini sangat langka dijumpai keris yang menggunakan bahan meteorit sebagai bahan pamor. Umumnya bahan yang sering digunakan sebagai bahan pamor menggunakan bahan alternatif pengganti meteorit, salah satunya ialah nikel.
4.         Ricikan yaitu istilah untuk menyebut bagian-bagian detail atau komponen-komponen dari bilah keris yang menjadi ciri khas suatu bentuk keris. Sebilah keris yang lengkap mempunyai 26 macam bagian atau ricikan dan masing-masing ricikan memiliki nama. Untuk penamaan ricikan sifatnya baku dan sesuai dengan pakem. Nama-nama ricikan telah dipakai turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
5.         Metalurgi yaitu ilmu tentang pengerjaan logam secara kimiawi dan mekanis yang berkaitan dengan teknik pembuatan keris. Sebuah keris tidak bisa diciptakan dari satu jenis logam saja, namun harus dari campuran beberapa logam. Pada masa lalu campuran logam tersebut berasal dari bebatuan yang berasal dari luar angkasa atau sering disebut meteorit.
            Masih sangat banyak pengetahuan tentang keris yang seharusnya dimuat di buku pelajaran seni budaya secara berkesinambungan dari tingkat SD, SMP, maupun SMA/K. Karena mempelajari keris berarti akan mempelajari besi atau logam, kayu yang digunakan sebagai sarung keris (warangka), tata cara pemakaian maupun fungsi-fungsi keris dan lain sebagainya. Akan sangat menarik jika siswa diajak mengamati secara langsung proses pembuatan keris di tempat pembuatan keris yang disebut besalen.
            Hal tersebut semata-mata untuk memperkuat karakter rasa cinta tanah air atau sikap nasionalis pada diri siswa. Sikap nasionalis bisa ditunjukkan melalui sikap apresiasi terhadap budaya bangsa sendiri serta menjaga kekayaan budaya bangsa. Walaupun siswa yang merupakan generasi milenial adalah sasaran penyampaian materi tentang keris di sekolah, namun bagi para guru yang belum memiliki pengetahuan tentang keris tentu saja harus dituntut untuk mampu menyampaikan materi tersebut. Para guru bisa mendapatkan pengetahuan tentang keris melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh komunitas guru yang diwadahi oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau belajar secara mandiri melalui komunitas-komunitas pelestari keris atau bahkan melalui media internet.
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) telah digulirkan sejak tahun 2016 di sekolah-sekolah. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), bapak Muhajir Effendy, Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter merupakan fondasi dan ruh utama pendidikan. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan implementasi dari penguatan karakter yang merupakan salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Nawa Cita.
Agar rasa cinta dan memiliki budaya bangsa terutama pengetahuan tentang keris  melekat pada jiwa para generasi milenial maka salah satu solusinya harus dimulai dari dunia pendidikan. Menurut wikipedia, generasi milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.  Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Keris lebih banyak dikenal oleh generasi yang sudah lanjut atau masyarakat yang usianya sudah dewasa dan secara umum keris kurang begitu populer dimiliki maupun dipelajari para generasi milenial. Pemahaman-pemahan tentang keris yang kurang benar itu tentu saja harus diluruskan melalui kurikulum pendidikan di Indonesia. Dengan begitu informasi yang benar tentang keris tersampaikan dan tertanam pada diri generasi milenial secara berkesinambungan dan menjadikan mereka tidak gagal paham tentang keris. Istilah gagal paham begitu populer di media sosial baik itu facebook, twitter, instagram, maupun yang lainnya pada sekitar tahun 2016. Gagal paham mengandung pengertian keadaan dimana jika seseorang mengalami kurang mengerti atau kurang memahami sebuah topik berita, pembicaraan atau informasi yang diperoleh (https://jennynotestoday.blogspot.com/2015/09/gagal-paham.html).
Peristiwa pelecehan budaya nusantara berkaitan dengan keris oleh Perdana Akhmad Lakoni (PAL)  pada 02 Oktober 2016 penyebabnya terjadi karena para pelaku gagal paham tentang keris. Hal itu karena pemahamannya sepotong-sepotong dan tidak secara menyeluruh memahami budaya tentang keris sehingga menuai kontroversi dan kecaman. Untuk mencegah peristiwa itu terulang maka pengetahuan tentang keris memang harus dimulai sejak dini, sebagaimana cabang-cabang seni lainnya yang dijelaskan dalam kurikulum pendidikan melalui mata pelajaran seni budaya. Dengan cara seperti itu tentunya ada harapan baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan tentang keris baik secara kebendaannya dan aspek-aspek lain yang mengikutinya.


III.   Kesimpulan
Sebagai bagian dari cabang seni rupa yang memiliki kekayaan materi dan keunikan tersendiri, walaupun tingkat kedalaman materi ajar tidak sama di setiap jenjang pendidikan sudah sepatutnya materi tentang keris diajarkan secara formal melalui kurikulum pendidikan, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA/K.
Dengan disampaikannya materi tentang keris di sekolah-sekolah, maka informasi yang benar tentang keris akan dimiliki oleh para generasi milenial. Berbekal pemahaman yang benar tentang keris, maka diharapkan karakter cinta budaya bangsa melekat dan mendarah daging pada generasi milenial. Sehingga keris sebagai warisan budaya asli Indonesia tetap lestari dan mengikuti perkembangan zaman.


Daftar Pustaka
Harsrinuksmo, Bambang. 2002. Ensiklopedia Keris. Jakarta: Gramedia.
Koesni. 1979. Pakem Pengetahuan Tentang Keris. Semarang: CV Aneka Ilmu.
La Nyalla Academia. 2011. The power of iron: keris koleksi La Nyalla Mahmud Mattalitti. Surabaya: La Nyalla Academia.

Jumat, 27 Oktober 2017

Keris sajen temuan pada stupa candi Borobudur (koleksi museum Tropen, Belanda)

Salah satu koleksi Tropen museum Belanda ialah sebuah keris sajen (keris ini sering disebut keris Majapahit bagi orang Belanda)
Keris ini seluruhnya terbuat dari besi tempa, memiliki mata lurus dan lebar. Bagian bawah keris tumpul di satu sisi (gandik), sisi lain kehabisan titik tajam. Bagian ini menunjukkan garis horizontal pada jarak tertentu dari tepi. Pada bagian pesi (gagang keris) memiliki bentuk sosok manusia dengan wajah jernih, mulut, mata, kalung dan lengan panjang. Sosok tersebut memiliki posisi berdiri. Keris ini ditemukan pada tahun 1842 di stupa Borobudur.
Diasumsikan bahwa keris tersebut ditempatkan pada sebuah upacara di suatu tempat antara tanggal empat belas dan tahun 1526, akhir periode Majapahit. Meskipun keris semacam itu disebut "Keris Majapahit", diduga bahwa gaya keris ini membuatnya lebih tua dari pada masa kerajaan Majapahit, abad ke-14 dan 15






de kris van Knaud' (Keris Knaud)

Salah satu peninggalan budaya kita yang benar-benar unik ialah keris legendaris ini. Keris ini ialah salah satu koleksi Tropen Museum, Belanda.
Keris ini dikenal dengan nama  "de kris van Knaud" (keris Knaud)
Nama keris tersebut diambil dari nama Charles Knaud (1840-1897), seorang Belanda yang agak eksentrik yang lahir dan besar di Jawa, ia merasa sangat tertarik pada ilmu pengetahuan dan mistisisme pulau ini. Dia belajar tentang dukun, penyembuh tradisional Jawa. Reputasinya dalam hal ini terbukti begitu hebat, sehingga pernah suatu saat ia dipanggil oleh seorang penguasa Jawa, Paku Alam V (1878-1900), yang putra sulungnya sakit parah. Knaud mencatat bahwa putra mahkota adalah korban guna-guna, ilmu hitam, dan berhasil menyembuhkannya. Suksesi takhta diamanatkan dengan itu, dan sebagai hadiah, Knaud diberi pusaka tertua dan paling berharga yaitu: sebuah keris.
Keris ini digambarkan dan digambarkan dalam 'Introduction to Hindu Javanese Art', sebuah karya standar klasik dari dokter indologis ternama. N.J. Chrom, (kepala Layanan Antiquarian di Belanda-India). Gambar menunjukkan pisau yang besinya sangat terpengaruh oleh waktu. Modelnya adalah sebuah buaya keris dengan cincin baja besi, metuk, dan setengah malaikat yang rusak.
Yang luar biasa, adalah bahwa bilah di kedua sisi sebagian dilapisi dengan pelat tembaga tipis di mana adegan epik Ramayana diterapkan. Di satu sisi seseorang melihat embun beku dengan dua pelayan kerdil; Terbalik, Sita dan Jenderal Hanuman digambarkan, lalu sikap Rahwana dengan salah satu penasihatnya, dan akhirnya seorang pemanah yang menunjuk anak panahnya ke Hanuman memanjat pohon. Pada sisi lain menunjukkan sebuah perjuangan dimana Hanuman berada dalam mata dengan tentara musuh yang menindas.
Bagian dasar bilah besi juga ada tembaga dan menunjukkan representasi jelas dari kepala ular, seekor rusa melompat, cangkang bersayap, Ganesha dan wajah kecil.
Keris ini memiliki angka terukir tahun 1264 Saka (dalam kalender Masehi yaitu tahun 1342).
'Keris Knaud' adalah keris pertama yang bisa diketahui dengan persis waktu penciptaannya.
Atribut kuningan dan penyebutan tahun pada sebuah keris sangat tidak biasa. Umumnya Keris tidak memiliki tanggal dan lapisan logam tambahan (pada masa itu).
Keris tersebut pernah dicuri oleh penjajah Jepang di Hindia Belanda selama Perang Dunia Kedua dan dibawa ke Jepang. Chrom melaporkan pada tahun 1920 bahwa keberadaan keris sudah tidak diketahui lagi. Menjelang akhir hayatnya, Charles Knaud pindah ke Belanda dan kemungkinan besar mengambil hadiah kerajaannya. Akhirnya, keris tersebut ditemukan pada musim panas 2002: di kubah bank keluarga Knaud. Setelah konsultasi akhirnya disepakati bahwa keris unik ini dapat dipamerkan sebagai pinjaman jangka panjang di museum Tropen.
Keris ini memiliki bobot 253 gram.













Rabu, 22 Maret 2017

Periodisasi Keris : Zaman Kabudan

Dalam dunia perkerisan di Indonesia untuk menentukan periodisasi keris terlebih dahulu para ahli melakukan suatu perkiraan bilah keris yang disebut dengan menangguh. Menangguh berasal dari kata tangguh yang memiliki pengertian suatu cara untuk memperkirakan tahun pembuatan keris atau bisa juga memperkirakan gaya (style) keris yang merujuk pada wilayah tertentu. Istilah gaya (style) wujud atau bentuk keris dalam dunia perkerisan disebut dengan pasikutan.
Pasikutan atau sikutan adalah istilah untuk menilai gaya irama bentuk serta kesan perwatakan tosan aji, khususnya keris (Ensiklopedia Keris, 2011). Ada beberapa macam jenis pasikutan dalam dunia perkerisan, yaitu :
1.     Pasikutan kaku, yaitu bentuk bilah keris yang cenderung tidak serasi dan janggal,
2.     Pasikutan wingit, yaitu bentuk bilah keris yang cenderung menimbulkan suasana menyeramkan atau terkesan angker,
3.     Pasikutan prigel, yaitu bentuk bilah keris yang terkesan tangkas dan terampil,
4.     Pasikutan sedeng, yaitu bentuk bilah keris yang sedang (tidak terlalu panjang atau terlalu pendek),
5.     Pasikutan demes, yaitu bentuk bilah keris yang rapi dan enak dipandang,
6.     Pasikutan wagu, yaitu bentuk bilah keris yang kurang serasi dan kurang harmonis,
7.     Pasikutan odol, yaitu bentuk bilah keris yang kasar dan terkesan asal jadi,
8.     Pasikutan kemba, yaitu bentuk bilah keris yang hambar,
9.     Pasikutan tanpa semu, yaitu bentuk bilah keris yang tidak mempunyai kesan,
10. Pasikutan sereng, yaitu bentuk bilah keris yang terkesan galak dan keras,
11. Pasikutan bagus atau ayu, yaitu bentuk bilah keris yang terkesan menyenangkan, luwes.
Selain dari gaya (style) bilah keris, memperkirakan asal-usul keris bisa juga dari kesan perabaan bilah keris itu sendiri, warna bilah keris (cenderung kebiruan, kemerahan, kehijauan dsb.), pengetrapan bahan pamor, dan ricikan (komponen-komponen) bilah keris.
Periodisasi keris secara umum di Indonesia dibagi menjadi beberapa zaman yaitu :
1.     Zaman kuno (125 M – 1125 M)
2.     Madya kuno ( 1126 M – 1250 M)
3.     Sepuh tengahan (1251 M – 1459 M)
4.     Tengahan (1460 M – 1613 M)
5.     Nom (1614 M – 1945 )
6.     Kamardikan (1945 – sekarang)
Sedangkan periodisasi kerajaan di Indonesia ialah :
1.     Salakanagara (130-362)
2.     Kutai (abad ke-4)
3.     Tarumanagara (358–669)
4.     Kendan (536–612)
5.     Galuh (612-1528)
6.     Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
7.     Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
8.     Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
9.     Kerajaan Medang (752–1006)
10. Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
11. Kerajaan Sunda (932–1579)
12. Kediri (1045–1221)
13. Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
14. Singhasari (1222–1292)
15. Majapahit (1293–1500)
16. Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Baik periodisasi keris maupun periodisasi kerajaan di Indonesia memang diakui memiliki berbagai versi. Hal ini semakin menambah kazanah pengetahuan dari sudut pandang manakah kita akan mempelajarinya.
Pada zaman kuno, periodisasi keris masih dibagi dua masa, yaitu masa kadewatan dan masa kabudan.
Sebagian pecinta keris menganggap bahwa masa kabudan ini terjadi sekitar abad ke-6 sampai 9 atau 10, yakni seperiode dengan masa-masa pembangunan candi Borobudur sampai dengan masa kerajaan Kahuripan (Ensiklopedi Keris, 2011). Dari periodisasi kerajaan di atas dapat kita simpulkan bahwa masa kabudan berlangsung di era kerajaan Galuh (612-1528), Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7), Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13), Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9), Medang (752–1006), dan Kahuripan (1006–1045).
Pada masa kabudan ini empu pencipta keris diantaranya ialah :
1.     Empu Mayang (725)
Karya empu Mayang ialah Sang Carubuk, Kebo Lajer dan keris Singha. Dari nama keris yang diciptakan bisa jadi empu Mayang ialah empu Dewayasa II.
2.     Empu Sarpadewa
Beliau hidup pada masa negeri Mamenang, karyanya berupa 3 bilah keris pusaka yang diberi nama Sang Cengkrong, Sang Damarmurup, Sang Carita. Ada kisah tentang empu Sarpadewa yang terkenal yaitu saat beliau didatangi seorang dari negeri tetangga dan dimohon untuk membuatkan keris pusaka untuk orang tersebut. Karena kecantikan si pemesan yang juga seorang nahkoda kapal, empu Sarpadewa kemudian jatuh cinta. Dengan segera empu Sarpadewa mewujudkan keris pusaka yang dipesan oleh perempuan itu. Pembuatan keris pusaka ini ternyata diketahui oleh raja Mamenang dan membuat murka sang raja. Empu Sarpadewa akhirnya diusir keluar dari negeri tersebut, dan keris pusaka diserahkan kepada sang nahkoda kapal.
3.     Empu Ramayadi
Beliau hidup sekitar tahun 827, karyanya ada tiga bilah pusaka yaitu Sang Pandawa, Sang Kresna Tanding, dan Sang Bhimakroda. Empu Ramayadi bukanlah penduduk asli negeri Mamenang namun berasal dari negeri lain. Karena kepandaiannya dalam bergaul dan melebur dalam kebudayaan negeri Mamenang, beliau merasa diterima sebagai warga Mamenang.
4.     Empu Gadawisesa
Beliau hidup sekitar tahun 941 dan berhasil menciptakan dua bilah keris pusaka, yaitu Sang Megantara dan Sang Rarasjiwa atau disebut juga Rarasduwa, ada juga yang menyebutnya keris Lara Siduwa. Adapun pembuatan kedua keris pusaka tersebut atas titah Prabu Citrasoma di Pengging.
5.     Empu Windudibya
Beliau hidup sekitar tahun 1119, adapun keris pusaka yang diciptakan ialah Sang Panjisekar, Sang Carangsoka, Sang Panjianom, dan Sang Sekargading. Keris-keris pusaka tersebut dibuat atas titah Prabu Amiluhur di Jenggala.
6.     Empu Kandangdewa
Beliau hidup pada masa Kahuripan yaitu sekitar tahun 1045. Empu Kandangdewa diyakini masih satu perguruan dengan empu Kanwa, namun empu Kanwa lebih memilih menekuni dunia kesusastraan karena menganggap apapun yang berwujud senjata akan menimbulkan peperangan. Pada masa Kahuripan dipimpin oleh Airlangga empu Kanwa telah menciptakan karya sastra agung yang berjudul Arjuna Wiwaha. Ada cerita yang menarik tentang empu Kandangdewa, yaitu saat beliau melakukan suatu perjalanan dan bertemu dengan seorang pertapa yang bernama Sang Jatinindra. Sang Jatinindra tak lain ialah Airlangga yang merupakan raja Kahuripan. Dalam pertemuannya itu Sang Jatinindra menyarankan agar empu Kandangdewa untuk mengabdikan dirinya ke negeri Jenggala. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pada sekitar akhir tahun 1042, raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu bagian barat bernama Kadiri beribu kota di Daha, diserahkan kepada Sri Samarawijaya, serta bagian timur bernama Janggala beribu kota di Kahuripan, diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Setelah turun takhta,  raja Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Untuk menyamarkan namanya maka raja Airlangga menggunakan nama Sang Jatinindra. Dalam rentang waktu satu tahun, empu Kandangdewa telah berhasil menciptakan tiga bilah pusaka, yaitu Sang Sabukinten, Sang Jalak, dan Sang Kalawelang.
7.     Empu Windusarpa
Beliau hidup sekitar tahun 1000 – 1100. Keris pusaka yang dibuat oleh empu Windusarpa ada tiga bilah, yaitu Sang Barojol, Sang Bethok, dan Sang Larbango. Empu Windusarpa diyakini ialah nama lain dari empu Kandangdewa (berdasarkan keris yang dibawa saat menghadap prabu Jayengrana). Ada cerita saat pertama kali empu Kandangdewa menghadap ke Prabu Jayengrana raja Jenggala saat itu, sang prabu terperanjat karena seakan-akan ia melihat seekor ular yang melilit tubuh empu Windusarpa. Namun ternyata bukanlah ular yang melilit tubuh empu Kandangdewa, melainkan keris pusaka Sang Kalawelang. Dan sejak saat itu empu Kandangdewa diterima mengabdi di kerajaan Jenggala dan mengubah namanya menjadi empu Windusarpa.
8.     Empu Wareng
Keris pusaka yang dibuat empu Wareng  sekitar tahun 1100 – 1103 pada masa Pengging Witaradya. Ada tiga bilah keris pusaka ciptaannya yaitu Sang Lunggadung, Sang Pandawa Lare, dan Sang Supana. Namun setelah menciptakan ketiga bilah pusaka itu, beliau meninggal dunia sehingga tidak ada lagi keris yang diciptakannya.
9.     Empu Gandawijaya
Empu gandawijaya hidup sezaman dengan empu Wareng yaitu pada masa Pengging Witaradya. Beliau menggantikan kedudukan empu Wareng sebagai empu kepercayaan sang raja. Sepeninggal empu Wareng tidak ada satupun empu yang menciptakan keris di negeri tersebut. Dan pada tahun 1125 empu Gandawijaya mulai menciptakan keris pusaka. Dan selama hidupnya empu Gandawijaya hanya membuat tiga bilah keris yaitu Sang mengeng, Sang Carubuk, dan Sang Buntala. Selain itu empu Gandawijaya juga membuat keris patrem, yaitu keris yang berukuran kecil dan diperuntukkan kaum perempuan. Adapun keris patrem yang beliau ciptakan ialah Nyi Carangbuntala, Nyi Pulut Benda, dan Nyi Puthut.
Jika pada masa lalu keris digunakan sebagi senjata dalam sebuah peperangan, namun pada perkembangan selanjutnya keris mengalami perluasan fungsi. Keris dipandang sebagai senjata untuk menempuh kehidupan.
Mengenai asal-usul nama keris, Koesni (1979) menjelaskan bahwa keris berasal dari dua kata yaitu kekeran dan aris yang disingkat menjadi keris. Kekeran memiliki arti pagar; penghalang; peringatan; pengendalian. Sedangkan Aris berarti tenang; lambat; halus. Jadi keris secara filosofi dianggap dapat ngeker atau memagari dan menghalangi atau mampu mengendalikan si pemilik secara aris yang berarti halus dan tenang atau secara lambat dan sabar.


Bahan bacaan :
1.     Koesni (Pakem Pengetahuan Tentang Keris, 1979)
2.     Dr. John Miksic ( Seri Indonesian Heritage : Sejarah Awal, 2002)
3.     Prasida Wibawa (Pesona Tosan Aji, 2008)
4.     F.L. Winter (Kitab Klasik Tentang Keris, 2009)
5.     Bambang Harsrinuksmo (Ensiklopedia Keris, 2011)
6.     KRHT Hudoyo Doyodipuro, Occ (Keris Daya Magic – Manfaat – Tuah – Misteri, 2012)
7.     Ki Juru Bangunjiwa (Keris Gagrak Kasultanan Ngayogyakarta, 2014)




Selasa, 21 Maret 2017

Periodisasi Keris : Zaman Kadewatan

          
Kitab Maha Nidessa dari India pertengahan abad ke-3 SM sudah menyebut Jawa. Ramayana karya Valmiki yang kemungkinan ditulis pada abad ke-4 SM dan abad ke-2 SM, menerangkan tentang Pulau Jawa yang disebut sebagai Yavadvipa (Pulau Jelai dalam bahasa Sansekerta) dengan tujuh kerajaan. Sebuah laporan Cina, Nan zhou i wou chih yang ditulis oleh Wan Zhen (222-280 M) menyebut tentang gunung-gunung berapi di Si-tiao, tanah yang subur, dan penduduknya memakai pakaian dari kulit kayu. Yang dimaksud dengan Si-tiai hampir pasti Pulau Jawa. Geographia karya Ptomely, seorang astronom Yunani dari Alexandria yang hidup sekitar tahun 100 M, mengisahkan tempat yang disebut labadiou. Sebutan ini mungkin dari kata Yavadivu, bahasa prakit untuk Yavadvipa.
          Penemuan cetakan tanah untuk pengecoran logam di beberapa situs daerah Bandung dan Pejaten, Jakarta bagian selatan membuktikan bahwa orang Jawa sudah mampu membuat atau memproduksi logam pada masa proto-sejarah (200 M – 600 M). Pada masa ini kerajaan pertama yang diketahui di Indonesia ialah kerajaan Salakanagara (130 M – 362 M) yang merupakan cikal bakal kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat.
          Jenis artefak logam berbahan perunggu di Indonesia yang terkenal ialah nekara besar dan dinamakan nekara Dong Son diduga diimpor setelah tahun 200 M dari pusat-pusat kebudayaan Dong Son di Vietnam Utara. Nekara-nekara ini ditemukan di sepanjang rangkaian pulau Sunda, dari Sumatera melalui Jawa ke Nusa Tenggara dan mencapai Kepulauan Kai dekat Irian Jaya (Papua). Ada juga Nekara yang ditemukan dari Kalimantan. Nekara digunakan sebagai tanda kebesaran raja atau kepala suku yang ingin berkumpul dengan kalangan elit dari berbagai negara lain. Selain Nekara, artefak lain yang diperkirakan dibuat pada masa ini di pulau Jawa ialah berbagai kapak corong dengan bentuk ekor walet, bejana dari Kerinci, Lampung dan Madura serta kapak upacara yang berukiran corak geometris dan figuratif yang berasal dari pulau Roti.
          Teknologi pengolahan logam tentunya tidak melulu tentang teknik cetak lilin buang (a cire perdue) yang digunakan untuk mencetak nekara, namun ada juga teknik tempa lipat untuk membuat keris. Dalam buku-buku tentang keris dikenal masa kadewatan, yaitu salah satu periodisasi dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa. Sebagian pecinta keris menganggap zaman Kadewatan adalah imajiner, tidak nyata dan tidak pernah nyata. Sebagian buku-buku kuno yang memuat tentang keris, seolah memberi gambaran bahwa keris itu asal mulanya adalah senjata para dewa, dan dibuat oleh empu-empunya kahyangan (Ensiklopedi Keris, 2011). Sebagian pecinta keris menganggap bahwa era Kadewatan adalah zaman tertua dalam periodisasi keris. Namun ada juga yang menganggap bahwa zaman tertua dalam periodisasi keris ialah zaman Kabudan. Kabudan ialah salah satu periodisasi dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa. Sebagian pecinta keris menganggap zaman Kabudan berlangsung antara abad ke-6 sampai 9 atau 10, yakni sezaman dengan pembangunan Candi Borobudur sampai dengan awal zaman Kahuripan. (Ensiklopedi Keris, 2011). Dari pengertian kedua zaman tersebut dapat disimpulkan bahwa zaman Kadewatan berlangsung sebelum zaman Kabudan, jadi sebelum abad ke-6.
Penyebutan zaman pada dunia perkerisan memang tidak sama dengan penyebutan zaman pada periodisasi kerajaan di Indonesia.

          Jika zaman Kadewatan itu berlangsung sebelum abad ke-6, maka kerajaan-kerajaan yang tercatat dalam sejarah di Pulau Jawa pada masa itu ialah Salakanagara (130-362), Tarumanagara (358–669), Kendan (536–612). Pada masa itu empu-empu yang terkenal ada beberapa yaitu :
1.     Empu Ramahadi atau juga disebut empu Ramadi.
Beliau hidup di zaman Jawa Kanda (sekitar tahun 125). Dalam cerita rakyat beliau dianggap sebagai salah satu empu ketuunan dewa. Karyanya berupa 3 keris yang diberi nama : Sang Lar Ngatap, Sang Pasupati dan Sang Cundrikarum.
2.     Empu Sakahadi atau juga disebut empu Iskadi.
Beliau hidup di zaman Medang Siwandata dan mengabdi pada prabu Dewakenanga. Beliau dititahkan untuk membuat keris yang sakti. Dalam satu tahun empu Sakahadi berhasil mewujudkan keinginan sang prabu. Keris ciptaannya dinamakan Sang Jalakdinding atau disebut juga Sang Jalakjinjing. Keris ini diciptakan sekitar tahun 216. Ketenaran sang empu Sakahadi membuat sang Prabu membunuhnya.
3.     Empu Sukmahadi.
Hidup di sekitar tahun 230 (zaman Tulyanto) dan menetap di Jawa Timur. Beliau membabar satu pusaka saja yang diberi nama Sang Kala Hamisani. Setelah menciptakan (istilah dalam perkerisan : membabar) pusaka tersebut, beliau tidak lagi mau menjadi empu, sebab memiliki firasat bahwa karyanya pasti merenggut nyawa orang lain. Oleh sebab itu beliau memilih untuk mengasingkan diri ke pulau Bali mendekati puncak gunung Merbuk.
4.     Empu Bramakedali
Beliau hidup di zaman Medang Kamulan, sekitar tahun 261. Karyanya ada 2 bilah pusak yang diberi nama Sang Balebang dan Sang Tilam Upih. Konon empu Bramakedali kurang senang dengan Sang Tilam Upih hingga pusaka tersebut dibungkus dengan klaras (daun pisang) kemudian dilarung di Laut Selatan.
5.     Empu Saptagati
Beliau hidup di zaman Gilingwesi (sekitar tahun 165) bersama Prabu Naradigda. Beliau membabar 3 bilah pusaka yang diberi nama : Sang Jaka Serang, Sang Supana Sidik, dan Sang Jantra. Beliau mencapai umur lebih dari 100 tahun dan meninggal sekitar tahun 265.
6.     Empu Pujagati
Beliau hidup pada zaman negeri Purwacarita, sekitar tahun 418. Ada 2 pusaka yang belia ciptakan yaitu : Sang Supanaluk (sempana luk), Sang bango Dholog.
7.     Empu Sanggagati
Beliau hidup di negeri Purwacarita sekitar tahun 420. Empu tersebut merupakan murid dari empu Pujagati yang dipercaya untuk meneruskan bakat sang guru. Setelah empu Pujagati meninggal dunia, barulah empu Sanggagati berani menciptakan keris buatannya sendiri. Keris ciptaannya ada dua bilah yaitu keris yang memiliki lekuk atau luk dinamakan Sang Karagan dan keris yang lurus dinamakan Sang Setan Kobar.
8.     Empu Dewayasa I
Beliau hidup di zaman negeri Wiratha, atau ada yang menyebut negeri Japara sekitar tahun 522. Ada 3 pusaka yang beliau ciptakan yaitu : Sang Ron Bakung, Sang Yuyurumpung dan Sang Dadapngerak. Empu Dewayasa diperkirakan berasal dari negeri Jambudwipa (India).
9.     Empu Dewayasa II
Beliau hidup di zaman Purwacarita ketiga, beliau merupakan cucu dari empu Dewayasa yang pertama, beliau menciptakan 3 bilah keris pusaka yang bentuknya sama persis dengan pusaka buatan empu Dewayasa I. Pusaka tersebut dibuat secara bersamaan, namun penamaannya yang berbeda dari nama pusaka buatan empu Dewayasa I. Adapun keris pusaka buatan empu Dewayasa II ialah : Sang Carubuk, Sang Kebolajer, dan Sang Kabor.
Istilah penyebutan zaman pada buku-buku mengenai keris memang tidak sama dengan penyebutan zaman untuk periodisasi kerajaan di Indonesia. Namun jika merujuk pada penulisan tahun yang hampir semua buku tentang keris tidak ada perbedaan, maka bisa jadi Masa Kadewatan itu bukanlah sebuah zaman yang bersifat imajiner (khayal). Karena bisa jadi simbolisasi raja sebagai keturunan dewa yang dicampur dengan naskah-naskah pada kitab suci yang menyebabkan kerancuan antara fakta dan fiksi. Sebagai contoh ialah patung siwa yang diletakkan di dalam candi-candi Hindu. Patung dewa siwa itu merupakan perlambang dari Raja yang didharmakan pada candi tersebut. Pengetahuan tentang dewa-dewa tentu saja berdasarkan dari kitab suci. Sedangkan raja adalah manusia yang dianggap memiliki kekuatan seperti dewa, karena bisa jadi seorang raja memiliki jabatan tertinggi dalam suatu kekuasaan, memiliki kewibawaan, kekuatan dan sifat-sifat superior yang lainnya oleh karena itu ia bisa bertindak seolah-olah seperti dewa. Atau mungkin sifat-sifat dewa itu dimiliki oleh raja, sehingga ada anggapan bahwa raja itu adalah titisan dari dewa. Konsep Dewaraja inilah yang menyebabkan keris pada zaman Kadewatan seolah-olah bersifat imajiner, saya ambil contoh kisah tentang keris buatan empu Saptagati yang dibuat sekitar tahun 265, raja yang menitahkan ialah Maha Raja Buda Kresna di Purwacarita, riwayatnya yaitu : ketika raja Budawaka diperangi oleh raja Berawa di hutan Tulyan, raja Budawaka dengan hulu balangnya kalah, lalu lari menuju ke tanah Prayangan. Di hutan Medanggili, raja Budawaka berhenti dan bersemayam disitu. Negeri Medanggili dipindah nama menjadi Gilingwesi. Raja Berawa kemudian menjadi raja di negeri Medangkamolan. Sang Hyang Wisnu menjelma di Madyapada yang kedua kalinya dan menjadi raja di Medangkamolan, raja Berawa dititahkan merajai semua lelembut (makhluk halus atau jin). Raja Berawa selalu menurut segala perintah Sang Hyang Wisnu, lalu Sang Hyang Wisnu berganti nama menjadi raja Budakresna, negeri Medangkamolan dipindah juga menjadi negeri Purwacarita. (Kitab Klasik Tentang Keris, 2009).
          Penyebutan negeri Medangkamolan (ada yang menyebut Medang Kamulan) pada cerita di atas tidak sama dengan penyebutan Medang pada periodisasi kerajaan di Indonesia. Cerita di atas terjadi sekitar tahun 265, sedangkan kerajaan Medang dalam periodisasi kerajaan di Indonesia terjadi sekitar tahun 752–1006.
          Ini sedikit ulasan saya tentang zaman Kadewatan pada periodisasi keris di pulau Jawa, bagaimanapun juga periodisasi kerajaan di Indonesia merupakan bagian yang sangat penting dalam membentuk suatu peradaban dan kebudayaan sebuah bangsa. Bisa jadi masa proto-sejarah di Indonesia adalah suatu keniscayaan dimana sejarah tentang perkerisan di Indonesia diawali.


Bahan bacaan :
1.     F.L. Winter (Kitab Klasik Tentang Keris, 2009)
2.     Koesni (Pakem Pengetahuan Tentang Keris, 1979)
3.     Bambang Harsrinuksmo (Ensiklopedia Keris, 2011)
4.     Prasida Wibawa (Pesona Tosan Aji, 2008)
5.     Dr. John Miksic ( Seri Indonesian Hertage : Sejarah Awal, 2002)
http://www.vikingsword.com/ethsword/maisey/