Rabu, 28 Oktober 2026

Menapaki Estetika Jawa di Padepokan Mangun Dharma

Pada Rabu Legi, 21 Oktober 2026, saya bersama teman-teman mahasiswa Magister Pendidikan Seni Universitas Negeri Malang angkatan 2026 berkunjung ke Padepokan Mangun Dharma, Tumpang, Kabupaten Malang sebagai salah satu pendalaman materi kuliah Antrososio Estetik yang dibimbing pak Dr. Rudi Irawanto, S.Pd. M.Sn. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk mengenal lebih dekat estetika Jawa melalui penjelasan Ki Soleh Adi Pramono, pemilik padepokan.



Dalam tradisi perhitungan Jawa yang tercatat dalam primbon, dikenal lima istilah yang berkaitan dengan penafsiran keberuntungan rumah, yaitu Kerto, Yoso, Candi, Rogoh, dan Sempoyong. Kelima istilah ini memiliki makna dan perlambangan yang berbeda. Kerto dimaknai sebagai pertanda kemakmuran, kelimpahan rezeki, serta kedatangan banyak tamu atau relasi. Yoso melambangkan ketenteraman, kehormatan, dan kemapanan. Sementara itu, Candi menggambarkan kekokohan, keamanan, kedamaian, dan keselamatan atau rahayu.

Sebaliknya, Rogoh dan Sempoyong dimaknai sebagai pertanda kurang baik. Rogoh dikaitkan dengan kemungkinan kehilangan, kerusakan, atau pengeluaran yang tidak terduga. Adapun Sempoyong melambangkan kehidupan yang kurang stabil, penghuni yang kerap sakit-sakitan, atau perasaan tidak betah tinggal di rumah tersebut. Pemaknaan ini merupakan bagian dari sistem kepercayaan tradisional Jawa yang diwariskan dan dipahami dalam konteks kebudayaannya.

Sebelum ritual dimulai, berbagai perlengkapan disiapkan. Di antaranya dupa, bunga, bubur merah dan putih, serta kinangan yang terdiri atas daun sirih, buah pinang, kapur sirih atau enjet, gambir, dan tembakau. Sejumlah bunga, seperti melati, kenanga, dan kanthil, turut disertakan bersama wedang teh, kopi, dan air putih. Sebanyak 12 batang dupa kemudian dinyalakan, sesuai dengan neptu Rabu Legi yang berjumlah 12 dalam sistem perhitungan Jawa.

Ki Soleh, didampingi putrinya, lalu mendekati pintu yang akan dipasang. Ia menempelkan telapak tangannya pada daun pintu, sementara putrinya membantu proses tersebut. Dalam suasana yang khidmat, Ki Soleh melafalkan mantra berbahasa Jawa. Prosesi masang lawang pun berlangsung sebagai bagian dari ikhtiar budaya untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi penghuni rumah.

Setelah prosesi di pintu selesai, kami kembali ke tempat perlengkapan ritual diletakkan dan duduk mengelilinginya. Ki Soleh kembali melafalkan mantra dan menyalakan kemenyan. Seusai pembacaan mantra, rangkaian doa ditutup dengan doa Islam yang dipimpin salah seorang asistennya. Perpaduan unsur tradisi Jawa dan doa Islam tersebut menjadi bagian yang kami saksikan secara langsung dalam prosesi itu.


Selain memperkenalkan tata cara ritual, Ki Soleh juga menjelaskan sejumlah konsepsi yang dikenal dalam tradisi spiritual Jawa, yakni japa, mantra, guna, srana, dan sabda. Kelima istilah ini berkaitan dengan praktik spiritual, pengetahuan kebatinan, dan pemahaman tradisional mengenai hubungan antara ucapan, sarana, serta daya atau manfaat yang diyakini menyertainya.

Japa merujuk pada pengulangan kata atau ungkapan tertentu untuk membantu memusatkan perhatian dan menenangkan pikiran. Sementara itu, mantra dipahami sebagai rangkaian kata yang memiliki makna dan fungsi khusus dalam praktik spiritual. Dalam kajian mengenai tradisi Hindu, istilah mantra juga dikaitkan dengan upaya mengarahkan pikiran menuju pemahaman yang lebih baik.

Istilah guna berkaitan dengan manfaat, fungsi, atau kemampuan yang diperoleh dari suatu pengetahuan. Dalam konteks tertentu, istilah ini juga digunakan untuk menyebut kemampuan khusus atau daya linuwih. Adapun srana berarti sarana atau perantara yang digunakan dalam suatu praktik, seperti bunga, air, dupa, minyak, maupun ramuan tertentu. Sementara itu, sabda merujuk pada ucapan atau perkataan. Dalam kepercayaan spiritual Jawa, dikenal pula ungkapan sabda dadi, yakni keyakinan bahwa perkataan seseorang tertentu dapat menjadi kenyataan atas kehendak Tuhan.

Setelah menyaksikan rangkaian ritual dan mendengarkan penjelasan tersebut, kami kemudian menuju pendopo untuk mengikuti sesi utama, yaitu pembahasan mengenai estetika Jawa bersama Ki Soleh Adi Pramono. Bagi kami, pengalaman di Padepokan Mangun Dharma bukan sekadar kunjungan untuk mendengarkan paparan teori, melainkan juga kesempatan menyaksikan secara langsung bagaimana nilai, simbol, keyakinan, dan praktik budaya hadir dalam kehidupan masyarakat Jawa.