Rabu, 22 Maret 2017

Periodisasi Keris : Zaman Kabudan

Dalam dunia perkerisan di Indonesia untuk menentukan periodisasi keris terlebih dahulu para ahli melakukan suatu perkiraan bilah keris yang disebut dengan menangguh. Menangguh berasal dari kata tangguh yang memiliki pengertian suatu cara untuk memperkirakan tahun pembuatan keris atau bisa juga memperkirakan gaya (style) keris yang merujuk pada wilayah tertentu. Istilah gaya (style) wujud atau bentuk keris dalam dunia perkerisan disebut dengan pasikutan.
Pasikutan atau sikutan adalah istilah untuk menilai gaya irama bentuk serta kesan perwatakan tosan aji, khususnya keris (Ensiklopedia Keris, 2011). Ada beberapa macam jenis pasikutan dalam dunia perkerisan, yaitu :
1.     Pasikutan kaku, yaitu bentuk bilah keris yang cenderung tidak serasi dan janggal,
2.     Pasikutan wingit, yaitu bentuk bilah keris yang cenderung menimbulkan suasana menyeramkan atau terkesan angker,
3.     Pasikutan prigel, yaitu bentuk bilah keris yang terkesan tangkas dan terampil,
4.     Pasikutan sedeng, yaitu bentuk bilah keris yang sedang (tidak terlalu panjang atau terlalu pendek),
5.     Pasikutan demes, yaitu bentuk bilah keris yang rapi dan enak dipandang,
6.     Pasikutan wagu, yaitu bentuk bilah keris yang kurang serasi dan kurang harmonis,
7.     Pasikutan odol, yaitu bentuk bilah keris yang kasar dan terkesan asal jadi,
8.     Pasikutan kemba, yaitu bentuk bilah keris yang hambar,
9.     Pasikutan tanpa semu, yaitu bentuk bilah keris yang tidak mempunyai kesan,
10. Pasikutan sereng, yaitu bentuk bilah keris yang terkesan galak dan keras,
11. Pasikutan bagus atau ayu, yaitu bentuk bilah keris yang terkesan menyenangkan, luwes.
Selain dari gaya (style) bilah keris, memperkirakan asal-usul keris bisa juga dari kesan perabaan bilah keris itu sendiri, warna bilah keris (cenderung kebiruan, kemerahan, kehijauan dsb.), pengetrapan bahan pamor, dan ricikan (komponen-komponen) bilah keris.
Periodisasi keris secara umum di Indonesia dibagi menjadi beberapa zaman yaitu :
1.     Zaman kuno (125 M – 1125 M)
2.     Madya kuno ( 1126 M – 1250 M)
3.     Sepuh tengahan (1251 M – 1459 M)
4.     Tengahan (1460 M – 1613 M)
5.     Nom (1614 M – 1945 )
6.     Kamardikan (1945 – sekarang)
Sedangkan periodisasi kerajaan di Indonesia ialah :
1.     Salakanagara (130-362)
2.     Kutai (abad ke-4)
3.     Tarumanagara (358–669)
4.     Kendan (536–612)
5.     Galuh (612-1528)
6.     Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
7.     Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
8.     Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
9.     Kerajaan Medang (752–1006)
10. Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
11. Kerajaan Sunda (932–1579)
12. Kediri (1045–1221)
13. Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
14. Singhasari (1222–1292)
15. Majapahit (1293–1500)
16. Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Baik periodisasi keris maupun periodisasi kerajaan di Indonesia memang diakui memiliki berbagai versi. Hal ini semakin menambah kazanah pengetahuan dari sudut pandang manakah kita akan mempelajarinya.
Pada zaman kuno, periodisasi keris masih dibagi dua masa, yaitu masa kadewatan dan masa kabudan.
Sebagian pecinta keris menganggap bahwa masa kabudan ini terjadi sekitar abad ke-6 sampai 9 atau 10, yakni seperiode dengan masa-masa pembangunan candi Borobudur sampai dengan masa kerajaan Kahuripan (Ensiklopedi Keris, 2011). Dari periodisasi kerajaan di atas dapat kita simpulkan bahwa masa kabudan berlangsung di era kerajaan Galuh (612-1528), Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7), Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13), Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9), Medang (752–1006), dan Kahuripan (1006–1045).
Pada masa kabudan ini empu pencipta keris diantaranya ialah :
1.     Empu Mayang (725)
Karya empu Mayang ialah Sang Carubuk, Kebo Lajer dan keris Singha. Dari nama keris yang diciptakan bisa jadi empu Mayang ialah empu Dewayasa II.
2.     Empu Sarpadewa
Beliau hidup pada masa negeri Mamenang, karyanya berupa 3 bilah keris pusaka yang diberi nama Sang Cengkrong, Sang Damarmurup, Sang Carita. Ada kisah tentang empu Sarpadewa yang terkenal yaitu saat beliau didatangi seorang dari negeri tetangga dan dimohon untuk membuatkan keris pusaka untuk orang tersebut. Karena kecantikan si pemesan yang juga seorang nahkoda kapal, empu Sarpadewa kemudian jatuh cinta. Dengan segera empu Sarpadewa mewujudkan keris pusaka yang dipesan oleh perempuan itu. Pembuatan keris pusaka ini ternyata diketahui oleh raja Mamenang dan membuat murka sang raja. Empu Sarpadewa akhirnya diusir keluar dari negeri tersebut, dan keris pusaka diserahkan kepada sang nahkoda kapal.
3.     Empu Ramayadi
Beliau hidup sekitar tahun 827, karyanya ada tiga bilah pusaka yaitu Sang Pandawa, Sang Kresna Tanding, dan Sang Bhimakroda. Empu Ramayadi bukanlah penduduk asli negeri Mamenang namun berasal dari negeri lain. Karena kepandaiannya dalam bergaul dan melebur dalam kebudayaan negeri Mamenang, beliau merasa diterima sebagai warga Mamenang.
4.     Empu Gadawisesa
Beliau hidup sekitar tahun 941 dan berhasil menciptakan dua bilah keris pusaka, yaitu Sang Megantara dan Sang Rarasjiwa atau disebut juga Rarasduwa, ada juga yang menyebutnya keris Lara Siduwa. Adapun pembuatan kedua keris pusaka tersebut atas titah Prabu Citrasoma di Pengging.
5.     Empu Windudibya
Beliau hidup sekitar tahun 1119, adapun keris pusaka yang diciptakan ialah Sang Panjisekar, Sang Carangsoka, Sang Panjianom, dan Sang Sekargading. Keris-keris pusaka tersebut dibuat atas titah Prabu Amiluhur di Jenggala.
6.     Empu Kandangdewa
Beliau hidup pada masa Kahuripan yaitu sekitar tahun 1045. Empu Kandangdewa diyakini masih satu perguruan dengan empu Kanwa, namun empu Kanwa lebih memilih menekuni dunia kesusastraan karena menganggap apapun yang berwujud senjata akan menimbulkan peperangan. Pada masa Kahuripan dipimpin oleh Airlangga empu Kanwa telah menciptakan karya sastra agung yang berjudul Arjuna Wiwaha. Ada cerita yang menarik tentang empu Kandangdewa, yaitu saat beliau melakukan suatu perjalanan dan bertemu dengan seorang pertapa yang bernama Sang Jatinindra. Sang Jatinindra tak lain ialah Airlangga yang merupakan raja Kahuripan. Dalam pertemuannya itu Sang Jatinindra menyarankan agar empu Kandangdewa untuk mengabdikan dirinya ke negeri Jenggala. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pada sekitar akhir tahun 1042, raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu bagian barat bernama Kadiri beribu kota di Daha, diserahkan kepada Sri Samarawijaya, serta bagian timur bernama Janggala beribu kota di Kahuripan, diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Setelah turun takhta,  raja Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Untuk menyamarkan namanya maka raja Airlangga menggunakan nama Sang Jatinindra. Dalam rentang waktu satu tahun, empu Kandangdewa telah berhasil menciptakan tiga bilah pusaka, yaitu Sang Sabukinten, Sang Jalak, dan Sang Kalawelang.
7.     Empu Windusarpa
Beliau hidup sekitar tahun 1000 – 1100. Keris pusaka yang dibuat oleh empu Windusarpa ada tiga bilah, yaitu Sang Barojol, Sang Bethok, dan Sang Larbango. Empu Windusarpa diyakini ialah nama lain dari empu Kandangdewa (berdasarkan keris yang dibawa saat menghadap prabu Jayengrana). Ada cerita saat pertama kali empu Kandangdewa menghadap ke Prabu Jayengrana raja Jenggala saat itu, sang prabu terperanjat karena seakan-akan ia melihat seekor ular yang melilit tubuh empu Windusarpa. Namun ternyata bukanlah ular yang melilit tubuh empu Kandangdewa, melainkan keris pusaka Sang Kalawelang. Dan sejak saat itu empu Kandangdewa diterima mengabdi di kerajaan Jenggala dan mengubah namanya menjadi empu Windusarpa.
8.     Empu Wareng
Keris pusaka yang dibuat empu Wareng  sekitar tahun 1100 – 1103 pada masa Pengging Witaradya. Ada tiga bilah keris pusaka ciptaannya yaitu Sang Lunggadung, Sang Pandawa Lare, dan Sang Supana. Namun setelah menciptakan ketiga bilah pusaka itu, beliau meninggal dunia sehingga tidak ada lagi keris yang diciptakannya.
9.     Empu Gandawijaya
Empu gandawijaya hidup sezaman dengan empu Wareng yaitu pada masa Pengging Witaradya. Beliau menggantikan kedudukan empu Wareng sebagai empu kepercayaan sang raja. Sepeninggal empu Wareng tidak ada satupun empu yang menciptakan keris di negeri tersebut. Dan pada tahun 1125 empu Gandawijaya mulai menciptakan keris pusaka. Dan selama hidupnya empu Gandawijaya hanya membuat tiga bilah keris yaitu Sang mengeng, Sang Carubuk, dan Sang Buntala. Selain itu empu Gandawijaya juga membuat keris patrem, yaitu keris yang berukuran kecil dan diperuntukkan kaum perempuan. Adapun keris patrem yang beliau ciptakan ialah Nyi Carangbuntala, Nyi Pulut Benda, dan Nyi Puthut.
Jika pada masa lalu keris digunakan sebagi senjata dalam sebuah peperangan, namun pada perkembangan selanjutnya keris mengalami perluasan fungsi. Keris dipandang sebagai senjata untuk menempuh kehidupan.
Mengenai asal-usul nama keris, Koesni (1979) menjelaskan bahwa keris berasal dari dua kata yaitu kekeran dan aris yang disingkat menjadi keris. Kekeran memiliki arti pagar; penghalang; peringatan; pengendalian. Sedangkan Aris berarti tenang; lambat; halus. Jadi keris secara filosofi dianggap dapat ngeker atau memagari dan menghalangi atau mampu mengendalikan si pemilik secara aris yang berarti halus dan tenang atau secara lambat dan sabar.


Bahan bacaan :
1.     Koesni (Pakem Pengetahuan Tentang Keris, 1979)
2.     Dr. John Miksic ( Seri Indonesian Heritage : Sejarah Awal, 2002)
3.     Prasida Wibawa (Pesona Tosan Aji, 2008)
4.     F.L. Winter (Kitab Klasik Tentang Keris, 2009)
5.     Bambang Harsrinuksmo (Ensiklopedia Keris, 2011)
6.     KRHT Hudoyo Doyodipuro, Occ (Keris Daya Magic – Manfaat – Tuah – Misteri, 2012)
7.     Ki Juru Bangunjiwa (Keris Gagrak Kasultanan Ngayogyakarta, 2014)




Selasa, 21 Maret 2017

Periodisasi Keris : Zaman Kadewatan

          
Kitab Maha Nidessa dari India pertengahan abad ke-3 SM sudah menyebut Jawa. Ramayana karya Valmiki yang kemungkinan ditulis pada abad ke-4 SM dan abad ke-2 SM, menerangkan tentang Pulau Jawa yang disebut sebagai Yavadvipa (Pulau Jelai dalam bahasa Sansekerta) dengan tujuh kerajaan. Sebuah laporan Cina, Nan zhou i wou chih yang ditulis oleh Wan Zhen (222-280 M) menyebut tentang gunung-gunung berapi di Si-tiao, tanah yang subur, dan penduduknya memakai pakaian dari kulit kayu. Yang dimaksud dengan Si-tiai hampir pasti Pulau Jawa. Geographia karya Ptomely, seorang astronom Yunani dari Alexandria yang hidup sekitar tahun 100 M, mengisahkan tempat yang disebut labadiou. Sebutan ini mungkin dari kata Yavadivu, bahasa prakit untuk Yavadvipa.
          Penemuan cetakan tanah untuk pengecoran logam di beberapa situs daerah Bandung dan Pejaten, Jakarta bagian selatan membuktikan bahwa orang Jawa sudah mampu membuat atau memproduksi logam pada masa proto-sejarah (200 M – 600 M). Pada masa ini kerajaan pertama yang diketahui di Indonesia ialah kerajaan Salakanagara (130 M – 362 M) yang merupakan cikal bakal kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat.
          Jenis artefak logam berbahan perunggu di Indonesia yang terkenal ialah nekara besar dan dinamakan nekara Dong Son diduga diimpor setelah tahun 200 M dari pusat-pusat kebudayaan Dong Son di Vietnam Utara. Nekara-nekara ini ditemukan di sepanjang rangkaian pulau Sunda, dari Sumatera melalui Jawa ke Nusa Tenggara dan mencapai Kepulauan Kai dekat Irian Jaya (Papua). Ada juga Nekara yang ditemukan dari Kalimantan. Nekara digunakan sebagai tanda kebesaran raja atau kepala suku yang ingin berkumpul dengan kalangan elit dari berbagai negara lain. Selain Nekara, artefak lain yang diperkirakan dibuat pada masa ini di pulau Jawa ialah berbagai kapak corong dengan bentuk ekor walet, bejana dari Kerinci, Lampung dan Madura serta kapak upacara yang berukiran corak geometris dan figuratif yang berasal dari pulau Roti.
          Teknologi pengolahan logam tentunya tidak melulu tentang teknik cetak lilin buang (a cire perdue) yang digunakan untuk mencetak nekara, namun ada juga teknik tempa lipat untuk membuat keris. Dalam buku-buku tentang keris dikenal masa kadewatan, yaitu salah satu periodisasi dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa. Sebagian pecinta keris menganggap zaman Kadewatan adalah imajiner, tidak nyata dan tidak pernah nyata. Sebagian buku-buku kuno yang memuat tentang keris, seolah memberi gambaran bahwa keris itu asal mulanya adalah senjata para dewa, dan dibuat oleh empu-empunya kahyangan (Ensiklopedi Keris, 2011). Sebagian pecinta keris menganggap bahwa era Kadewatan adalah zaman tertua dalam periodisasi keris. Namun ada juga yang menganggap bahwa zaman tertua dalam periodisasi keris ialah zaman Kabudan. Kabudan ialah salah satu periodisasi dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa. Sebagian pecinta keris menganggap zaman Kabudan berlangsung antara abad ke-6 sampai 9 atau 10, yakni sezaman dengan pembangunan Candi Borobudur sampai dengan awal zaman Kahuripan. (Ensiklopedi Keris, 2011). Dari pengertian kedua zaman tersebut dapat disimpulkan bahwa zaman Kadewatan berlangsung sebelum zaman Kabudan, jadi sebelum abad ke-6.
Penyebutan zaman pada dunia perkerisan memang tidak sama dengan penyebutan zaman pada periodisasi kerajaan di Indonesia.

          Jika zaman Kadewatan itu berlangsung sebelum abad ke-6, maka kerajaan-kerajaan yang tercatat dalam sejarah di Pulau Jawa pada masa itu ialah Salakanagara (130-362), Tarumanagara (358–669), Kendan (536–612). Pada masa itu empu-empu yang terkenal ada beberapa yaitu :
1.     Empu Ramahadi atau juga disebut empu Ramadi.
Beliau hidup di zaman Jawa Kanda (sekitar tahun 125). Dalam cerita rakyat beliau dianggap sebagai salah satu empu ketuunan dewa. Karyanya berupa 3 keris yang diberi nama : Sang Lar Ngatap, Sang Pasupati dan Sang Cundrikarum.
2.     Empu Sakahadi atau juga disebut empu Iskadi.
Beliau hidup di zaman Medang Siwandata dan mengabdi pada prabu Dewakenanga. Beliau dititahkan untuk membuat keris yang sakti. Dalam satu tahun empu Sakahadi berhasil mewujudkan keinginan sang prabu. Keris ciptaannya dinamakan Sang Jalakdinding atau disebut juga Sang Jalakjinjing. Keris ini diciptakan sekitar tahun 216. Ketenaran sang empu Sakahadi membuat sang Prabu membunuhnya.
3.     Empu Sukmahadi.
Hidup di sekitar tahun 230 (zaman Tulyanto) dan menetap di Jawa Timur. Beliau membabar satu pusaka saja yang diberi nama Sang Kala Hamisani. Setelah menciptakan (istilah dalam perkerisan : membabar) pusaka tersebut, beliau tidak lagi mau menjadi empu, sebab memiliki firasat bahwa karyanya pasti merenggut nyawa orang lain. Oleh sebab itu beliau memilih untuk mengasingkan diri ke pulau Bali mendekati puncak gunung Merbuk.
4.     Empu Bramakedali
Beliau hidup di zaman Medang Kamulan, sekitar tahun 261. Karyanya ada 2 bilah pusak yang diberi nama Sang Balebang dan Sang Tilam Upih. Konon empu Bramakedali kurang senang dengan Sang Tilam Upih hingga pusaka tersebut dibungkus dengan klaras (daun pisang) kemudian dilarung di Laut Selatan.
5.     Empu Saptagati
Beliau hidup di zaman Gilingwesi (sekitar tahun 165) bersama Prabu Naradigda. Beliau membabar 3 bilah pusaka yang diberi nama : Sang Jaka Serang, Sang Supana Sidik, dan Sang Jantra. Beliau mencapai umur lebih dari 100 tahun dan meninggal sekitar tahun 265.
6.     Empu Pujagati
Beliau hidup pada zaman negeri Purwacarita, sekitar tahun 418. Ada 2 pusaka yang belia ciptakan yaitu : Sang Supanaluk (sempana luk), Sang bango Dholog.
7.     Empu Sanggagati
Beliau hidup di negeri Purwacarita sekitar tahun 420. Empu tersebut merupakan murid dari empu Pujagati yang dipercaya untuk meneruskan bakat sang guru. Setelah empu Pujagati meninggal dunia, barulah empu Sanggagati berani menciptakan keris buatannya sendiri. Keris ciptaannya ada dua bilah yaitu keris yang memiliki lekuk atau luk dinamakan Sang Karagan dan keris yang lurus dinamakan Sang Setan Kobar.
8.     Empu Dewayasa I
Beliau hidup di zaman negeri Wiratha, atau ada yang menyebut negeri Japara sekitar tahun 522. Ada 3 pusaka yang beliau ciptakan yaitu : Sang Ron Bakung, Sang Yuyurumpung dan Sang Dadapngerak. Empu Dewayasa diperkirakan berasal dari negeri Jambudwipa (India).
9.     Empu Dewayasa II
Beliau hidup di zaman Purwacarita ketiga, beliau merupakan cucu dari empu Dewayasa yang pertama, beliau menciptakan 3 bilah keris pusaka yang bentuknya sama persis dengan pusaka buatan empu Dewayasa I. Pusaka tersebut dibuat secara bersamaan, namun penamaannya yang berbeda dari nama pusaka buatan empu Dewayasa I. Adapun keris pusaka buatan empu Dewayasa II ialah : Sang Carubuk, Sang Kebolajer, dan Sang Kabor.
Istilah penyebutan zaman pada buku-buku mengenai keris memang tidak sama dengan penyebutan zaman untuk periodisasi kerajaan di Indonesia. Namun jika merujuk pada penulisan tahun yang hampir semua buku tentang keris tidak ada perbedaan, maka bisa jadi Masa Kadewatan itu bukanlah sebuah zaman yang bersifat imajiner (khayal). Karena bisa jadi simbolisasi raja sebagai keturunan dewa yang dicampur dengan naskah-naskah pada kitab suci yang menyebabkan kerancuan antara fakta dan fiksi. Sebagai contoh ialah patung siwa yang diletakkan di dalam candi-candi Hindu. Patung dewa siwa itu merupakan perlambang dari Raja yang didharmakan pada candi tersebut. Pengetahuan tentang dewa-dewa tentu saja berdasarkan dari kitab suci. Sedangkan raja adalah manusia yang dianggap memiliki kekuatan seperti dewa, karena bisa jadi seorang raja memiliki jabatan tertinggi dalam suatu kekuasaan, memiliki kewibawaan, kekuatan dan sifat-sifat superior yang lainnya oleh karena itu ia bisa bertindak seolah-olah seperti dewa. Atau mungkin sifat-sifat dewa itu dimiliki oleh raja, sehingga ada anggapan bahwa raja itu adalah titisan dari dewa. Konsep Dewaraja inilah yang menyebabkan keris pada zaman Kadewatan seolah-olah bersifat imajiner, saya ambil contoh kisah tentang keris buatan empu Saptagati yang dibuat sekitar tahun 265, raja yang menitahkan ialah Maha Raja Buda Kresna di Purwacarita, riwayatnya yaitu : ketika raja Budawaka diperangi oleh raja Berawa di hutan Tulyan, raja Budawaka dengan hulu balangnya kalah, lalu lari menuju ke tanah Prayangan. Di hutan Medanggili, raja Budawaka berhenti dan bersemayam disitu. Negeri Medanggili dipindah nama menjadi Gilingwesi. Raja Berawa kemudian menjadi raja di negeri Medangkamolan. Sang Hyang Wisnu menjelma di Madyapada yang kedua kalinya dan menjadi raja di Medangkamolan, raja Berawa dititahkan merajai semua lelembut (makhluk halus atau jin). Raja Berawa selalu menurut segala perintah Sang Hyang Wisnu, lalu Sang Hyang Wisnu berganti nama menjadi raja Budakresna, negeri Medangkamolan dipindah juga menjadi negeri Purwacarita. (Kitab Klasik Tentang Keris, 2009).
          Penyebutan negeri Medangkamolan (ada yang menyebut Medang Kamulan) pada cerita di atas tidak sama dengan penyebutan Medang pada periodisasi kerajaan di Indonesia. Cerita di atas terjadi sekitar tahun 265, sedangkan kerajaan Medang dalam periodisasi kerajaan di Indonesia terjadi sekitar tahun 752–1006.
          Ini sedikit ulasan saya tentang zaman Kadewatan pada periodisasi keris di pulau Jawa, bagaimanapun juga periodisasi kerajaan di Indonesia merupakan bagian yang sangat penting dalam membentuk suatu peradaban dan kebudayaan sebuah bangsa. Bisa jadi masa proto-sejarah di Indonesia adalah suatu keniscayaan dimana sejarah tentang perkerisan di Indonesia diawali.


Bahan bacaan :
1.     F.L. Winter (Kitab Klasik Tentang Keris, 2009)
2.     Koesni (Pakem Pengetahuan Tentang Keris, 1979)
3.     Bambang Harsrinuksmo (Ensiklopedia Keris, 2011)
4.     Prasida Wibawa (Pesona Tosan Aji, 2008)
5.     Dr. John Miksic ( Seri Indonesian Hertage : Sejarah Awal, 2002)
http://www.vikingsword.com/ethsword/maisey/

Selasa, 05 April 2016

SEJARAH CANDI



PENGERTIAN
Candi adalah bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat, khusus untuk para raja dan orang-orang terkemuka. Yang dikuburkan ( dalam bahasa Kawi : cinandi )  disitu bukan mayat ataupun abu jenazah, melainkan bermacam-macam benda, seperti potongan-potongan berbagai jenis logam dan batu-batu akik, yang disertai dengan saji-sajian. Benda-benda tersebut dinamakan peripih dan dianggap sebagai lambang zat-zat jasmaniah dari sang raja yang telah bersatu kembali dengan dewa penitisnya.

ASAL MULA CANDI DI INDONESIA
Dari bangunan-bangunan jaman purba yang sampai kepada kita, yang kini masih tinggal sebagai peninggalan kebudayaan purba, hanyalah yang terbikin dari batu dan dari bata saja. Bangunan-bangunan ini semuanya ternyata sangat erat hubungannya dengan keagamaan, jadi bersifat suci. Bangunan-bangunan biasa seperti rumah-rumah dan sebagainya, tidak ada yang bertahan menghadapi gigi waktu, karena terbuat dari kayu dan bambu.
Bangunan-bangunan jaman purba itu biasa disebut <<candi>>. Perkataan ini berasal dari salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Maut, yaitu Candika. Jadi bangunan itu hubungannya ialah dengan Dewi Maut.
Mayat seorang raja yang meninggal dibakar, dan abunya dibuang atau dihanyutkan ke laut. Hal ini dilakukan dengan berbagai upacara, dan upacara-upacara serupa ini nantinya dilakukan lagi beberapa kali dengan antara waktu yang tertentu. Maksudnya ialah menyempurnakan roh agar dapat bersatu kembali dengan dewa yang dahulu menitis menjelma di dalam sang raja itu. Upacara terakhir adalah upacara çradha. Pada kesempatan ini roh dilepaskan sama sekali dari segala ikatan keduniawian yang mungkin masih ada, dan lenyaplah penghalang terakhir untuk dapatnya bersatu kembali roh itu dengan dewa penitisnya. Sebagai lambang jasmaniah dibuatkanlah sebuah boneka dari daun-daunan, yang disebut puspaçarira. Sebagai penutup upacara cradha, maka puspacarira ini dihanyutkan ke laut.
Setelah sang raja lepas dari alam kemanusiaan dan menjadi dewa, didirikanlah sebuah bangunan untuk menyimpan pripih tersebut di atas. Pripih ini ditaruh dalam sebuah peti batu, dan peti ini diletakkan dalam dasar bangunannya. Di samping itu dibuatkanlah sebuah patung yang mewujudkan sang raja sebagai dewa, dan patung ini menjadi sasaran pemujaan bagi mereka-mereka yang hendak memuja sang raja.
Candi sebagai semacam pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu. Candi-candi Agama Buddha dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa belaka. Di dalamnya tidak terdapatkan peti pripih, dan arcanya tidak mewujudkan seorang raja. Abu jenazah, juga dari para bhiksu yang terkemuka, ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.
Dengan demikian arca perwujudan yang melukiskan sang raja sebagai dewa, dan yang menjadi arca utama di dalam candi, umumnya adalah arca Siwa. Kerap kali arca perwujudan ini berupa lambang Ciwa saja, yaitu yang berupa lingga. Ada juga kalanya arca perwujudan ini berupa dewa Agama Buddha, tetapi dalam hal ini agamanya bukanlah Agama Buddha yang sesungguhnya, melainkan Tantrayana.
Candi sebagai bangunan terdiri dari 3 bagian, ialah : kaki, tubuh dan atap. Kaki candi denahnya bujur sangkar, dan biasanya agak tinggi, serupa batur, dan dapat dinaiki melalui tangga yang menuju terus ke dalam bilik candi. Di dalam candi itu, di tengah-tengah ada sebuah perigi tempat menanam pripihnya.
Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi arca perwujudannya. Arca ini berdiri di tengah bilik, jadi tepat di atas perigi, dan menghadap ke arah pintu masuk candi. Dinding-dinding bilik ini sisi luarnya di beri relung-relung yang diisi dengan arca-arca. Dalam relung sisi Selatan bertahta arca Guru, dalam relung Utara arca Durga dan dalam relung dinding belakang (barat atau timur, tergantung dari arah menghadapnya candi), arca Ganesha. Pada candi-candi yang agak besar relung-relung itu diubah menjadi bilik-bilik, masing-masing dengan pintu masuknya sendiri. Dengan demikian maka diperolehlah sebuah bilik tengah yang dikelilingi oleh bilik-bilik samping, sedangkan bilik mukanya menjadi jalan keluar masuk candi.
Atap candi selalu terdiri atas susunan tiga tingkata, yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya untuk akhirnya diberi sebuah puncak yang berupa semacam genta. Di dalam atap ini terdapatkan sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat berpahatkan gambar teratai merah, takhta dewa. Memang rongga ini dimaksudkan sebagai tempat bersemayam sementara sang dewa.
Pada upacara pemujaan, maka jasad jasmaniah dari dalam perigi dinaikkan, sedangkan jasad rohaniah dari rongga di dalam atap diturunkan, kedua-duanya ke dalam arca perwujudan. Dengan jalan ini maka hiduplah arca itu. Ia bukan lagi batu biasa, melainkan perwujudan dari almarhum sang raja sebagai Dewa ! (jelaslah bahwa pemujaan roh nenek moyang adalah yang pokok, sedangkan sifat-sifat kehinduan itu hanyalah luarnya saja).
Dengan kenyataan di atas, maka candi melambangkan pula alam semesta dengan 3 bagiannya : kaki adalah (alam bawah) tempat manusia biasa, atap adalah (alam atas) tempat dewa-dewa, dan tubuh adalah (alam antara) tempat manusia telah meninggalkan keduniawiannya dan dalam keadaan suci menemui Tuhannya.
Candi sebagai tempat sementara bagi dewa merupakan pula bangunan tiruan dari tempat dewa yang sebenarnya yaitu Gunung Mahameru. Maka candi itu dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan, yang terdiri dari pola-pola yang disesuaikan dengan alam Gunung tersebut, : bunga-bunga teratai, binatang-binatang ajaib, bidadari-bidadari, dewa-dewi dan lain sebagainya. Pun banyak pula hiasan daun-daunan dan sulur-sulur yang melingkar meliku memenuhi bidang-bidang diantara hiasan-hiasan lainnya. Kerap kali juga terdapat gambar-gambar makhluk ajaib yang telah disamar dalam lekuk liku daun-daunan.
Candi ada yang berdiri sendiri, ada yang berkelompok dan terdiri atas sebuah candi induk dan candi-candi perwara yang lebih kecil. Cara mengelompokkan candi rupanya erat hubungannya dengan alam pikiran serta susunan masyarakatnya. Demikianlah kelompok-kelompok candi di bagian selatan Jawa Tengah selalu disusun sedemikian rupa, sehingga candi induk berdiri di tengah dan candi-candi perwaranya teratur rapih berbaris-baris di sekelilingnya, sedang di bagian utara Jawa Tengah, candi-candi itu berkelompok dengan tiada aturan yang demikian dan lebih-lebih merupakan gugusan candi-candi yang masing-masing berdiri sendiri. Kenyataan demikian mencerminkan adanya pemerintahan pusat yang kuat di Jawa Tengah selatan dan pemerintahan <<federal>> yang terdiri atas daerah-daerah swatantra yang sederajat di Jawa Tengah utara. Demikianlah dapat dibayangkan, bahwa pemerintahan keluarga Cailendra sifatnya feodal dengan raja sebagai pusatnya, sedangkan pemerintahan keluarga Sanjaya bersifat demokratis.
Di Jawa Timur, yang nyata ialah sejak jaman Singhasari, susunan berkelompok candi berlainan lagi. Kini candi induknya terletak di bagian belakang halaman candi, sedangkan candi-candi perwaranya serta bangunan-bangunan lainnya ada di bagian depan. Candi induk adalah yang tersuci dan di dalam kelompok menduduki tempat yang tertinggi. Susunan demikian menggambarkan pemerintahan federal yang terdiri atas negara-negara bagian yang berotonomi penuh, sedangkan pemerintahan pusat sebagai penguasa tertinggi berdiri di belakang mempersatukan pemerintahan-pemerintahan daerah dalam rangka kesatuan.

FUNGSI CANDI
Fungsi Candi Hindu     :     adalah sebagai tempat pemujaan para dewa karena diyakini sebagai tempat bersemayam para dewa. Selain itu, candi Hindu juga berfungsi sebagai tempat menyimpan abu jenazah para raja, pemujaan roh nenek moyang atau roh raja yang sudah meninggal, serta tempat menyimpan berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam pripih.

Fungsi Candi Buddha   : 
  1. Tempat menyimpan relik atau disebut Dhatugarba. Relik tersebut antara lain benda suci, pakaian, tulang atau abu dari Buddha, arwah para biksu yang tersohor atau terkemuka.
  2. Tempat sembahyang atau beribadat bagi umat Buddha.
  3. Merupakan lambang suci bagi umat Buddha, cermin nilai-nilai tertinggi agama Buddha dan mengandung rasa rendah hati yang disadari penciptanya sedalam-dalamnya.
  4. Tanda peringatan dan penghormatan kepada Sang Buddha.


JENIS CANDI BERDASARKAN AGAMA
          Ada jenis candi yang dibuat berdasarkan agama, misalnya candi Hindu, Buddha, dan Siwa Buddha, serta jenis candi yang belum jelas keagamaannya. Berikut penjelasan selengkapnya :

1.   Candi Hindu
                    Candi Hindu adalah candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu. Ciri candi ini pada puncaknya terdapat bentuk ratna atau runcing, terdapat arca dewa-dewa yang ada dalam ajaran Hindu (dewa Trimurti dan dewa-dewa lain), serta relief di dinding candi adalah cerita-cerita Ramayana, Krisnayana, maupun Mahabarata, seperti sastra pada zaman Hindu.
      Adapun fungsi candi Hindu ialah untuk tempat pemujaan dewa karena diyakini sebagai tempat bersemayam dewa. Selain itu, candi Hindu juga berfungsi sebagai tempat menyimpan abu jenazah para raja, pemujaan roh nenek moyang atau roh raja yang sudah meninggal, serta tempat menyimpan berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam pripih.
      Untuk keperluan pemujaan, pada candi Hindu biasanya terdapat arca dewa Siwa, Wisnu, dan Brahma dengan kendaraannya. Menurut ajaran Hindu, Lembu Nandi adalah kendaraan dewa Siwa, Garuda kendaraan dewa Wisnu, dan Angsa kendaraan Dewa Brahma. Untuk pemujaan kepada dewa yang beraliran Hindu Siwa, biasanya terdapat arca Siwa, Resi Agastya merupakan Siwa yang menjadi Mahaguru, Ganesha (putra Siwa), dan Dewi Durga (istri Siwa). Selain itu, terdapat yoni yang merupakan simbol organ seksual wanita atau simbol kesuburan. Yoni juga menjadi simbol perwujudan istri Siwa, yaitu Dewi Durga, Uma, atau Parwati. Biasanya, yoni berpasangan dengan lingga (simbol kemaluan laki-laki), yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa.
                    Beberapa candi Hindu memiliki kalamakara berupa kepala raksasa. Konon, kalamakara ini awalnya berupa dewa yang tampan, namun ia mendapat hukuman dan kutukan dari Sang Hyang Widi, sehingga berubah menjadi raksasa yang buas dan setiap binatang yang dijumpainya dimakan dan diterkamnya. Dan, terakhir, ia memakan tubuhnya sendiri, sehingga tinggal kepalanya yang disebut kalamakara. Fungsi kalamakara ialah sebagai penolak sial atau ancaman batin yang tidak tampak secara lahiriah.
                    Adapun contoh candi Hindu adalah Candi Prambanan, Candi Gebang, kelompok Candi Dieng, Candi Gedong Songo, Candi Panataran, dan Candi Cangkuang.

2.   Candi Buddha
                    Candi Buddha adalah candi yang berfungsi untuk memuliakan Buddha dan sebagai tempat beribadah. Ciri candi Buddha adalah pada puncaknya terdapat bentuk stupa, di dalam candi terdapat arca Buddha, relief di dinding candi, misalnya relief di candi Borobudur (lelitavistara, jataka/avadana, dan gandawyuha).
      Beberapa candi Buddha memiliki arca singa. Secara fisolofis, ini merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat. Dalam ajaran agama Buddha, motif hiasan singa bisa dihubungkan maknanya dengan sang Buddha. Hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Buddha, yaitu “singa dari keluarga Sakya”.
                    Adapun contoh candi Buddha adalah Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Plaosan, Candu Banyunibo, Candi Sumberawan, Candi Jabung, kelompok candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus, dan Candi Biaro Bahal.
      Pada candi Buddha selalu terdapat arca Buddha Mudra (Sansekerta:lambang) yang merupakan sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual.

3.   Candi Siwa Buddha
                    Candi Siwa Buddha adalah candi sinkretis perpaduan antara Siwa dan Buddha, misalnya Candi Jawi.

4.   Candi yang belum Jelas Keagamaannya
                    Ada beberapa candi yang tidak jelas menunjukkan agama tertentu. Contoh, Candi Ratu Boko, Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Wringin Lawang.

PERBEDAAN CANDI JAWA TENGAH DAN CANDI JAWA TIMUR
          Ditilik dari sudut cara pengelompokkannya, maka candi-candi di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : jenis Jawa Tengah Utara, jenis Jawa Tengah Selatan, dan jenis Jawa Timur dengan termasuk didalamnya pula candi-candi di Bali dan di Sumatera Tengah (Muara Takus) serta Utara (Padanglawas). Pembagian ini sesuai benar dengan keagamaan yang mereka wakili, yaitu berturut-turut : agama Hindu (terutama Siwa), agama Buddha (Mahayana), dan aliran Tantrayana (baik yang bersifat Siwa maupun Buddha).
          Dalam hal ini kelompok Candi Loro Jonggrang yang merupakan pengecualian, yaitu bahwa susunannya sesuai dengan apa yang di dapat di Jawa Tengah Selatan tetapi keagamaan yang diwakilinya adalah agama Hindu. Seperti yang sudah kita ketahui, kelompok Candi ini berasal dari jaman setelah berpadunya keluarga Sanjaya dan keluarga Syailendra.
          Ditilik dari corak serta bentuknya, candi-candi Jawa Tengah Utara pada dasarnya tidak berbeda dari candi-candi Jawa Tengah Selatan. Hanyalah candi-candi Jawa Tengah Selatan itu lebih mewah dan lebih megah daripada candi-candi Jawa Tengah Utara yang di dalam pemberian bentuk serta hiasannya sangat bersahaja. Demikianlah maka perbedaan yang nyata ialah yang terdapat di antara candi-candi Jawa Tengah dan candi-candi Jawa Timur, sehingga dikatakan adanya Langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Perbedaan kedua langgam itu sesuai dengan batas waktu dalam sejarah : termasuk langgam Jawa Tengah ialah candi-candi yang berasal dari sebelum tahun 1000 Masehi, jadi termasuk pula beberapa candi dari Jawa Timur, dan yang digolongkan Langgam Jawa Timur ialah candi-candi sejak abad ke-11 (termasuk pula Muara Takus dan Gunung Tua). Adapun perbedaan-perbedaan yang terpenting pada candinya sendiri dari kedua macam langgam itu adalah sebagai berikut :

Langgam Jawa Tengah
Langgam Jawa Timur
1.
Bentuk bangunannya tambun
1.
Bentuk bangunannya ramping
2.
Atapnya nyata berundak-undak
2.
Atapnya merupakan perpaduan tingkatan
3.
Puncaknya berbentuk ratna atau stupa
3.
Puncaknya berbentuk kubus
4.
Gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara
4.
Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala
5.
Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis
5.
Reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit
6.
Letak candi di tengah halaman
6.
Letak candi di bagian belakang halaman
7.
Kebanyakan menghadap ke Timur
7.
Kebanyakan menghadap ke Barat
8.
Kebanyakan terbuat dari batu andesit
8.
Kebanyakan terbuat dari bata